Houthi Bersiap Blokade Jalur Perdagangan Global
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok pemberontak Houthi mengumumkan rencana untuk memblokade Selat Bab el-Mandeb, meniru langkah Iran yang telah menutup Selat Hormuz bagi kapal internasional. Langkah ini dipicu oleh konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel, yang kini meluas ke Laut Merah.
Dalam pernyataannya pada Senin, 27 Juli 2026, calon Menteri Luar Negeri untuk pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, Afrah al-Zouba, mengatakan bahwa Houthi ingin meniru model Iran. "Kelompok Houthi ingin meniru model Iran, dan langkah ini akan menutup dua selat utama yang menjadi pintu gerbang menuju perairan Teluk dan Laut Merah," ujarnya kepada wartawan di Kedutaan Besar Yaman di Riyadh, Arab Saudi. Ia menambahkan bahwa aksi tersebut "selaras" dengan eskalasi yang dilakukan Iran di kawasan.
Strategi Monopoli Jalur Pelayaran
Houthi, yang berbasis di Yaman, telah mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi di Laut Merah awal Juli lalu. Kelompok yang didukung Iran ini kini berupaya menguasai arus pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, sebuah jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia. Selat ini memiliki posisi strategis yang setara dengan Selat Hormuz, karena sekitar 30% lalu lintas peti kemas dunia dan 12-15% total perdagangan global melewati jalur Laut Merah.
Kondisi geografis Yaman memberikan keunggulan dominan bagi pihak yang menguasai wilayah barat negara tersebut. Data terkini menunjukkan aktivitas pelayaran di Laut Merah sudah mulai menurun – hanya 11 kapal pengangkut komoditas yang melintas pada Minggu, 26 Juli 2026. Penurunan ini menandakan dampak awal dari ancaman blokade Houthi.
Eskalasi Konflik dan Kurangnya Respons Internasional
Al-Zouba menyoroti bahwa Houthi semakin berani bertindak karena minimnya respons internasional yang layak terhadap aktivitas mereka di kawasan. Ia menyampaikan pernyataan ini di tengah meningkatnya ketegangan antara Houthi dengan Arab Saudi dan pemerintah Yaman yang diakui. Saudi telah melancarkan serangan udara terhadap kota pelabuhan Hodeidah yang dikuasai Houthi, setelah kelompok itu melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Saudi.
Bentrokan pada Juli 2026 merupakan eskalasi terbesar sejak gencatan senjata tahun 2022, yang terjadi bersamaan dengan keterlibatan Iran dalam pertempuran dengan AS. Iran sebelumnya mengakui bahwa Bandara Bushehr lumpuh akibat serangan AS, memperparah situasi di kawasan.
Dampak Global Jika Blokade Terwujud
Jika Houthi berhasil memblokade Selat Bab el-Mandeb, jalur perdagangan global akan terganggu secara signifikan. Selat ini merupakan jalur utama bagi kapal tanker minyak dan gas dari Teluk Persia menuju Eropa dan Amerika Utara. Selain itu, sebagian besar perdagangan antara Asia dan Eropa bergantung pada jalur Laut Merah.
Al-Zouba menegaskan bahwa tindakan Houthi bukan sekadar ancaman kosong, melainkan bagian dari strategi yang direncanakan untuk memperluas pengaruh Iran di Timur Tengah. "Mereka ingin mengontrol arus pelayaran di dua selat vital, yang akan memberi mereka tekanan geopolitik besar," katanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons resmi dari Dewan Keamanan PBB atau negara-negara besar seperti AS dan China. Namun, para analis memperkirakan bahwa peningkatan kehadiran angkatan laut internasional di Laut Merah mungkin diperlukan untuk menghindari krisis rantai pasok global.



