AS Kembali Serang Iran di Selat Hormuz, Satu Tewas di Mahshahr
AS Serang Iran di Selat Hormuz, Satu Tewas

Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap Iran pada Minggu (12/07) malam, menargetkan puluhan sasaran di sepanjang Selat Hormuz. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal komersial yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Serangan Terbaru AS: Target Pertahanan Udara hingga Drone Laut

Dalam pernyataan yang dirilis Senin (13/07), CENTCOM mengonfirmasi bahwa serangan diperintahkan langsung oleh Presiden Donald Trump. Operasi ini menggunakan amunisi presisi yang menghantam sistem pertahanan udara Iran, lokasi radar pantai, peralatan rudal dan drone, serta sejumlah kapal kecil. Untuk pertama kalinya, AS mengerahkan kombinasi pesawat tempur, kapal perang, drone udara serang sekali pakai, dan drone laut serang sekali pakai.

Media Iran melaporkan ledakan di Bandar Abbas dan Bushehr. CENTCOM menegaskan bahwa Iran tidak menguasai Selat Hormuz. “Selat Hormuz adalah koridor maritim yang sangat penting bagi perdagangan global. Iran tidak mengendalikannya,” kata CENTCOM. Militer AS siap memastikan kebebasan navigasi bagi kapal komersial di tengah apa yang disebut Washington sebagai agresi dan ancaman dari Teheran.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Iran: Serangan AS Sia-siakan Upaya Diplomatik

Iran bereaksi keras, menyatakan bahwa serangan AS telah membuat upaya diplomatik selama berbulan-bulan menjadi sia-sia. Kementerian Luar Negeri Iran, dikutip AFP, menyebut serangan itu “telah mengembalikan ketidakamanan di Selat Hormuz dan mengganggu pelayaran dagang internasional.” Teheran menuding Washington secara terang-terangan mengintervensi pengaturan Iran di selat tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, pada Minggu mendesak Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres untuk menghentikan pihak-pihak yang mengizinkan AS menggunakan wilayah mereka sebagai “landasan peluncuran agresi terhadap Iran.” Baqaei menegaskan bahwa situasi ini bukan konfrontasi militer, melainkan “kelanjutan dari tindakan agresi terang-terangan dan tanpa provokasi yang dimulai pada 28 Februari oleh Amerika Serikat dan Israel.”

Koreksi Nama Teluk dan Hak Bela Diri

Baqaei juga mengoreksi pernyataan Guterres yang menyebut “Teluk” tanpa “Persia.” Ia menuntut penggunaan istilah lengkap “Persian Gulf” sesuai pedoman PBB. Ia menegaskan bahwa serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di selatan Teluk Persia merupakan “pelaksanaan yang sah dan legal atas hak bela diri yang melekat berdasarkan hukum internasional.”

Sebelumnya, Guterres menyatakan keprihatinan atas eskalasi serius di kawasan Teluk, termasuk serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz, serangan AS ke Iran, dan serangan Iran ke negara tetangga. Baqaei menilai sikap Guterres tidak bertanggung jawab karena menyalahkan Teheran atas mempertahankan kedaulatannya, sementara gagal meminta pertanggungjawaban agresor.

Korban Jiwa di Mahshahr dan Sirene di Bahrain

Satu orang tewas dan empat lainnya luka-luka dalam serangan AS ke sebuah stasiun pompa air di kota Mahshahr, Iran barat daya, pada Senin dini hari. Kantor berita IRNA mengutip Valiollah Hayati, Wakil Gubernur Provinsi Khuzestan Bidang Keamanan dan Penegakan Hukum, yang menyatakan, “Menyusul serangan musuh Amerika pada Senin pagi, satu orang gugur dan empat lainnya terluka.” AS belum mengomentari insiden tersebut.

Sebagai balasan, Iran menyerang kepentingan AS di Teluk, memicu sirene serangan udara di seluruh Bahrain pada Senin pagi. Kementerian Dalam Negeri Bahrain memerintahkan warga berlindung. “Sirene telah dibunyikan... warga negara dan penduduk diimbau untuk tetap tenang dan segera menuju tempat aman terdekat,” tulis kementerian di X.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga