6 Fakta Saling Balas Serangan AS vs Iran di Selat Hormuz
6 Fakta Saling Balas Serangan AS vs Iran di Selat Hormuz

Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah terjadi saling balas serangan di tengah gencatan senjata yang rapuh. Serangan terbaru dipicu oleh aksi militer AS yang menargetkan area dekat pelabuhan di Selat Hormuz. Konflik ini telah berlangsung selama tiga bulan dan menghambat lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut, mendorong lonjakan harga energi global. Berikut enam fakta terkini mengenai saling balas serangan antara AS dan Iran.

1. AS Serang Iran di Sekitar Selat Hormuz

Militer AS melancarkan serangan baru di Iran pada Kamis (28/5) pagi. Serangan itu menargetkan lokasi di sekitar Selat Hormuz yang dianggap mengancam pasukan AS dan lalu lintas komersial, menurut seorang pejabat AS. Seorang pejabat AS menyatakan kepada CNN bahwa militer AS menembak jatuh empat drone Iran. Pasukan AS juga dilaporkan menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang hendak meluncurkan drone kelima. Sementara itu, CNN telah meminta komentar dari Komando Pusat AS mengenai laporan media Iran bahwa serangan AS merupakan respons terhadap tindakan Iran. Badan maritim yang memantau pelayaran di jalur air, UKMTO, belum melaporkan insiden apa pun terkait kapal yang dilaporkan ditembak.

2. Serang Dekat Pelabuhan

Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan pasukannya juga menembak jatuh empat drone milik Iran yang "menimbulkan ancaman di sekitar Selat Hormuz". Centcom menyebut lokasi di Bandar Abbas diserang saat bersiap meluncurkan drone kelima. Media-media Iran melaporkan bahwa ledakan terdengar di wilayah timur kota tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

3. Serangan Kedua dalam Sepekan

Tindakan militer AS ini merupakan kali kedua dalam tiga hari AS menyerang target di Iran. Mereka mengklaim bahwa tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk pembelaan diri. Eskalasi terbaru ini berpotensi mengancam keberlangsungan gencatan senjata. Centcom menggambarkan tindakannya sebagai "terukur, murni defensif, dan dimaksudkan untuk mempertahankan gencatan senjata". Awal pekan ini, Centcom juga mengonfirmasi serangan "membela diri" sebelumnya di Iran selatan pada Senin, yang menargetkan lokasi rudal Iran serta kapal-kapal yang diduga berupaya menanam ranjau di selat tersebut, tempat ribuan kapal tanker komersial tertahan akibat konflik. Centcom menyatakan serangan tersebut dirancang "untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran". Iran mengecam serangan tersebut sebagai "pelanggaran serius terhadap gencatan senjata" dan berjanji bahwa pemerintah Iran "tidak akan membiarkan satu pun tindakan permusuhan tanpa balasan."

4. Iran Balas Serangan

Merespons serangan AS, militer Iran dilaporkan melepaskan tembakan peringatan ke kapal-kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz. "Empat kapal mencoba melewati Selat Hormuz dan memasuki Teluk Persia tanpa berkoordinasi dengan pasukan keamanan yang bertanggung jawab atas selat tersebut," demikian dilaporkan beberapa media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, dilansir CNN Internasional, Kamis (28/5/2026). "Mereka telah diperingatkan, dan setelah mengabaikan peringatan tersebut, tembakan peringatan dilepaskan ke arah mereka, memaksa mereka untuk berbalik arah," menurut laporan tersebut. Sementara itu, Kantor Berita Tasnim, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), melaporkan bahwa Angkatan Laut IRGC telah menembakkan tembakan peringatan ke arah "kapal tanker minyak Amerika" yang memaksa kapal tersebut berbalik arah. "Sebagai tanggapan", ujar Tasnim, militer AS "menembak ke area tandus dekat Bandar Abbas, sebuah kota pelabuhan strategis tempat ledakan dilaporkan terjadi pada Kamis pagi waktu setempat," demikian dilaporkan Tasnim. Media Iran menyebut serangan ini merupakan respons atas serangan militer AS yang menargetkan lokasi di sekitar Selat Hormuz pada Kamis pagi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

5. Trump Ancam Oman

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menggunakan kekuatan militer terhadap Oman jika negara tersebut berkolaborasi dengan Iran untuk memperkuat kendali atas Selat Hormuz. Ia mengancam akan memperlakukan Oman seperti negara lain atau "meledakkannya". Dilansir Al Jazeera, Kamis (28/5/2026), hal itu disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan reporter dalam rapat kabinet pada Rabu (27/5) waktu AS. Awalnya, seorang reporter meminta Trump memberikan pendapatnya tentang gagasan Oman dan Iran mengawasi perdagangan di Selat Hormuz, yang menangani lebih dari 20 persen lalu lintas minyak global dunia. "Apakah Anda akan menerima kesepakatan jangka pendek yang memungkinkan Iran dan Oman untuk mengendalikan selat tersebut?" tanya reporter itu. Merespons pertanyaan itu, Trump menjawab dengan ancaman yang tampak spontan. Trump kemudian memperingatkan bahwa tidak ada pihak yang akan mengendalikan Selat Hormuz. Ia pun mengancam Oman. "Tidak ada yang akan mengendalikannya. Itu perairan internasional, dan Oman akan berperilaku seperti negara lain, atau kita harus meledakkan mereka," ujar Trump.

6. Iran Serukan Solidaritas

Merespons ancaman Trump kepada Oman, Iran menyatakan solidaritas terhadap Oman. Dilansir Al Jazeera, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan solidaritasnya dengan Oman setelah adanya "ancaman dari pejabat AS". Pernyataan itu disampaikan setelah Trump mengancam akan "meledakkan" Oman jika negara itu tidak "berperilaku seperti negara lain" terkait kendali atas Selat Hormuz. Baghaei juga mengutuk serangan AS baru-baru ini terhadap wilayah Bandar Abbas di Iran.