Trump Ultimatum Iran: Kesempatan Terakhir Sebelum 'Pemenggalan'
Trump Ultimatum Iran: Kesempatan Terakhir Sebelum Pemenggalan

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran. Dalam pernyataannya di Ruang Oval Gedung Putih pada Senin (3/8) waktu setempat, Trump mengaku ingin memberikan kesempatan terakhir kepada Teheran sebelum melakukan apa yang ia sebut sebagai "pemenggalan". Meski demikian, ia tidak menjelaskan secara rinci maksud dari istilah tersebut.

Klaim Negosiasi yang Dibantah Teheran

Trump kembali menegaskan bahwa negosiasi antara AS dan Iran sedang berlangsung, meskipun klaim ini telah berulang kali dibantah oleh pemerintah Iran. Menurut Trump, justru Iran yang meminta dialog, dengan dukungan dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan khususnya Qatar.

"Iran tidak ingin diserang, dan mereka bilang ingin berdialog. Kami sedang berdialog atas permintaan Iran, yang didukung oleh Arab Saudi, UEA, dan khususnya Qatar, serta pihak-pihak lain juga," kata Trump, seperti dilansir Anadolu Agency pada Selasa (4/8/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Ini kesempatan terakhir bagi mereka untuk menandatangani dokumen yang bagus. Saya ingin memberikan kesempatan terakhir kepada mereka sebelum pemenggalan," ucapnya tanpa elaborasi lebih lanjut.

Dua Tahap Perundingan yang Diklaim Trump

Lebih lanjut, Trump membeberkan bahwa perundingan akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama akan fokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz, sementara tahap kedua akan membahas kemampuan nuklir Iran.

"Kita sedang berdialog tentang Selat itu, pembukaan Selat tersebut, agar benar-benar terbuka paling cepat besok, terbuka sepenuhnya, dan itulah tahap pertama. Dan selanjutnya pada tahap kedua, kita akan membahas kemampuan nuklir mereka," tuturnya.

Ketika ditanya mengenai lokasi negosiasi, Trump menyebut keputusan akan diambil "hari ini atau besok" dan menambahkan bahwa perundingan akan berlangsung cepat. Ia juga mengomentari sikap Iran yang kerap menyangkal terlibat dalam dialog dengan Washington.

"Ketika mereka berdialog, mereka tidak suka mengakuinya... Kita sedang berdialog, dan terkadang mereka menyangkalnya, padahal mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbicara satu sama lain," ujarnya.

Bantahan Resmi dari Iran

Pernyataan Trump langsung mendapat respons tegas dari Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers pada Senin (3/8) menegaskan bahwa Iran tidak sedang melakukan negosiasi dengan AS.

"Kami tidak sedang melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat," tegas Baghaei.

Ia menambahkan bahwa Iran justru sedang berdialog dengan Oman untuk menetapkan "jalur sementara" di Selat Hormuz guna menjamin keselamatan pelayaran. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan persepsi yang tajam antara klaim AS dan realitas di lapangan.

Ketegangan yang Terus Meningkat

Ketegangan antara AS dan Iran telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir, terutama terkait Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Ancaman "pemenggalan" dari Trump menambah eskalasi retorika, meskipun makna pastinya masih menjadi teka-teki.

Sebelumnya, Trump juga sempat marah dan memberikan ultimatum setelah Iran membantah melanjutkan negosiasi. Sikap saling klaim dan bantahan ini menunjukkan kebuntuan diplomatik yang berpotensi memicu konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih mengenai bantahan Iran. Sementara itu, komunitas internasional menunggu perkembangan selanjutnya, apakah ancaman "pemenggalan" tersebut hanya retorika atau akan diikuti tindakan nyata.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga