Trump Klaim AS Ambil Langkah Kendalikan Selat Hormuz di Tengah Perang Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa Washington telah memulai langkah-langkah untuk mengendalikan Selat Hormuz, jalur perairan strategis di kawasan Timur Tengah, di tengah eskalasi perang dengan Iran. Pernyataan ini disampaikan Trump dalam wawancara dengan media Israel, Channel 14, pada Minggu (29/3/2026) waktu setempat, seperti dilaporkan oleh Anadolu Agency, Senin (30/3/2026).
Klaim Trump tentang Kemampuan AS
Ketika ditanya mengenai kemampuan AS dalam menguasai selat tersebut, Trump dengan tegas menjawab, "Iya, tentu saja, itu sudah terjadi." Namun, dia tidak memberikan penjelasan lebih rinci tentang langkah-langkah konkret yang telah diambil oleh pemerintahannya. Hal ini menimbulkan spekulasi mengenai strategi militer atau diplomatik yang mungkin diterapkan Washington.
Trump juga menekankan koordinasi yang erat dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait isu Iran. "Koordinasinya sangat erat. Kami memiliki hubungan yang baik. Tidak mungkin lebih baik lagi," ucapnya. Dia menambahkan keyakinannya bahwa Iran "sangat" menginginkan kesepakatan dengan AS, dengan menyatakan, "Saya pikir mereka sangat menginginkannya. Siapa pun pasti menginginkan kesepakatan jika negaranya sedang dihancurkan, bukan?"
Konteks Perang yang Memanas
Kawasan Timur Tengah telah mengalami peningkatan ketegangan signifikan sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan ini mengakibatkan:
- Total sedikitnya 1.340 orang tewas, termasuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
- Iran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone ke target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
- Serangan balasan Iran menyebabkan kerusakan dan korban luka di Israel serta negara-negara Teluk, dengan sedikitnya 13 tentara AS tewas dan lebih dari 300 lainnya luka-luka.
Dampak pada Selat Hormuz dan Ekonomi Global
Selat Hormuz, sebagai jalur kritis untuk pasokan energi global, telah terdampak parah oleh konflik ini. Aktivitas perlintasan di selat tersebut secara efektif dibatasi sejak awal Maret 2026, yang memicu:
- Gangguan global dalam rantai pasokan minyak.
- Peningkatan biaya pengiriman akibat penutupan parsial.
- Kenaikan harga minyak global yang lebih tinggi.
Garda Revolusi Iran telah menegaskan bahwa Selat Hormuz ditutup untuk kapal-kapal yang berlayar ke dan dari pelabuhan milik "musuh" Iran, memperburuk situasi ekonomi dan geopolitik di kawasan. Langkah-langkah AS yang diklaim Trump ini dapat memperumit upaya perdamaian dan stabilitas regional, sementara dunia menantikan perkembangan lebih lanjut dari konflik yang terus berkecamuk ini.



