Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing pada Selasa (19/05) untuk melakukan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping. Kunjungan ini menandai hubungan bilateral yang semakin erat di tengah ketegangan global.
Agenda Padat Kedua Pemimpin
Penasihat kebijakan luar negeri Putin, Yuri Ushakov, mengungkapkan bahwa kedua kepala negara akan menjalani agenda yang cukup padat. Setelah acara penyambutan pada Rabu (20/05) pagi, Putin dan Xi akan menggelar pembicaraan di Great Hall of the People sebelum menyampaikan pernyataan kepada media. Putin juga dijadwalkan bertemu Perdana Menteri China Li Qiang untuk membahas kerja sama ekonomi.
Pada malam harinya, Xi akan menggelar jamuan kenegaraan untuk memperingati 25 tahun perjanjian persahabatan bilateral kedua negara. Kedua pemimpin juga akan mengunjungi pameran foto yang memperingati 70 tahun kerja sama antara kantor berita negara Rusia TASS dan kantor berita China Xinhua.
Kunjungan akan ditutup dengan pertemuan santai antara Putin dan Xi dalam acara minum teh bersama. Menurut Ushakov, pembicaraan akan berfokus pada berbagai isu internasional utama, termasuk konflik Iran dan perang Ukraina.
Pembicaraan Penting soal Energi
Hubungan energi antara kedua negara diperkirakan menjadi salah satu topik utama dalam pembahasan pada Rabu (20/05). China telah meningkatkan pembelian minyak dan gas Rusia sejak pecahnya konflik Ukraina pada 2022. Moskow dan Beijing mendeklarasikan kemitraan tanpa batas hanya beberapa hari sebelum perang dimulai.
Raksasa energi Rusia Gazprom memasok gas alam ke China melalui pipa sepanjang 3.000 kilometer bernama Power of Siberia dalam kesepakatan 30 tahun senilai US$400 miliar (sekitar Rp7.083 triliun) yang dimulai pada 2019. China juga merupakan pelanggan utama Rusia untuk pengiriman minyak, baik melalui jalur laut maupun pipa. Ekspor tersebut tetap tinggi di tengah sanksi Barat terhadap Rusia akibat perang di Ukraina.
Menurut data Administrasi Umum Bea Cukai China, impor minyak China dari Rusia mencapai 100,72 juta metrik ton sepanjang 2025, setara 20 persen dari total volume impor minyak China. Ushakov mengatakan ekspor minyak Rusia ke China naik 35 persen pada kuartal pertama 2026 menjadi 31 juta ton.
Apa Itu Pipa Gas Power of Siberia 2?
Proyek Power of Siberia 2 adalah sistem pipa sepanjang 2.600 kilometer yang direncanakan mengalirkan 50 miliar meter kubik gas per tahun ke China melalui Mongolia dari ladang gas Arktik di Yamal, Rusia. Proyek tersebut akan melengkapi pipa Power of Siberia 1 yang sudah beroperasi dan menyalurkan 38 miliar meter kubik gas dari Rusia ke China.
Proyek Power of Siberia 2 sempat tertahan akibat perbedaan pandangan mengenai harga gas. Dalam pertemuan Xi dan Putin pada September lalu, Putin mengatakan bahwa harga gas dalam proyek tersebut akan menggunakan formula pasar yang serupa dengan skema pengiriman gas Rusia ke Eropa. Kedua negara juga sepakat meningkatkan volume tahunan pengiriman gas melalui jalur tersebut.
Proyek ini menjadi semakin penting bagi Rusia setelah sanksi akibat invasi ke Ukraina memutus sebagian besar akses Moskow ke pelanggan energi di Eropa. Namun, sejauh ini China tampak enggan memberikan pernyataan publik mengenai proyek pipa ini.
Xi dan Putin Tandatangani Kesepakatan soal Tatanan Multipolar
Selain membahas kesepakatan energi, Putin dan Xi Jinping juga dikabarkan akan menandatangani pernyataan mengenai pembangunan tatanan dunia multipolar serta sejumlah dokumen lainnya. Ushakov mengatakan kedua pemimpin akan menandatangani sekitar 40 dokumen, termasuk perjanjian bilateral di sektor industri, perdagangan, transportasi, dan konstruksi.
China telah berulang kali menyerukan agar negara-negara Barat meninggalkan mentalitas Perang Dingin dan menerima peran China dalam dunia yang semakin multipolar.
Merz Berharap Xi Mendesak Putin untuk Hentikan Perang Ukraina
Di sisi lain, Kanselir Jerman Friedrich Merz berharap Xi Jinping menggunakan pengaruhnya untuk mendesak Putin mengakhiri invasi Moskow ke Ukraina. Kami tidak berharap ada perubahan mendasar dalam hubungan strategis Rusia dan China pada tahap ini, kata Merz sebagaimana dikutip kantor berita Jerman DPA.
Namun kami tentu berharap kunjungan ini juga dimanfaatkan Presiden Xi untuk mendesak Presiden Putin mengakhiri perang di Ukraina, perang yang tidak bisa ia menangkan, kata Merz, sambil menyinggung banyaknya tentara Rusia yang menjadi korban.
Rusia kini semakin bergantung pada hubungan ekonominya dengan China setelah terisolasi dari negara-negara Barat akibat perang di Ukraina. China pun tidak pernah mengecam invasi Rusia dan terus menyerukan penyelesaian melalui negosiasi antara Kyiv dan Moskow.
Bukti Komitmen Sejati Rusia-China
Beijing dan Moskow menggambarkan kunjungan ini sebagai bukti komitmen kemitraan bilateral yang terus berlanjut dalam situasi apapun. Dalam pidato yang disampaikan pada Selasa (19/05), Putin menyebut hubungan Rusia dan China telah mencapai level saling pengertian dan kepercayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Menurut Putin, kedua negara siap saling mendukung dalam isu-isu yang menyangkut kepentingan inti masing-masing negara, termasuk perlindungan kedaulatan dan persatuan nasional. Putin juga menambahkan bahwa hubungan yang erat dan strategis antara Moskow dan Beijing memainkan peran stabilisasi dalam hubungan internasional.
Kami tidak membentuk aliansi untuk melawan siapa pun, melainkan bekerja demi perdamaian dan kemakmuran bersama, kata Putin.
Bagi Xi, kunjungan Putin yang berlangsung kurang dari sepekan pasca kedatangan Trump turut membuktikan posisi China yang masih stabil di tengah dunia yang sedang diguncang ketegangan perang, perdagangan, dan krisis energi. Sementara bagi Putin, kunjungan ini adalah upaya mengamankan kesepakatan energi di tengah sanksi dari Barat akibat perang di Ukraina.



