Ghislaine Maxwell Tolak Jawab Pertanyaan Parlemen AS Soal Kasus Epstein
Maxwell Tolak Jawab Pertanyaan Parlemen AS Soal Epstein

Kaki Tangan Epstein Gunakan Hak Konstitusional Tolak Jawab Pertanyaan Parlemen AS

Ghislaine Maxwell, mantan kekasih dan kaki tangan pelaku kejahatan seks Jeffrey Epstein, menolak untuk menjawab pertanyaan para anggota parlemen Amerika Serikat dalam sesi tanya-jawab yang digelar pada Senin (9/2) waktu setempat. Maxwell dihadirkan via tautan video dari penjara tempatnya sedang menjalani hukuman, namun memilih untuk tidak memberikan keterangan apapun.

Penyelidikan Komite Pengawasan DPR AS Terkait Epstein

Komite Pengawasan DPR AS, yang kini dikuasai Partai Republik, sedang menyelidiki hubungan antara Epstein dengan tokoh-tokoh berpengaruh serta bagaimana informasi tentang tindak kejahatannya ditangani. Maxwell dipanggil untuk bersaksi setelah kumpulan dokumen baru terkait kasus Epstein dirilis pada 30 Januari lalu.

Maxwell, yang sedang menjalani masa hukuman 20 tahun penjara atas pidana memperdagangkan anak-anak perempuan kepada Epstein, menggunakan haknya berdasarkan Amandemen Kelima Konstitusi AS. Amandemen ini melindungi individu dari pengakuan yang memberatkan diri sendiri. Dalam sesi tersebut, dia secara konsisten menolak untuk menjawab pertanyaan apa pun dari para anggota komite.

Pengacara Maxwell Sebut Siap Bersaksi dengan Syarat Pengampunan

"Nona Maxwell siap untuk berbicara sepenuhnya dan sejujurnya jika diberikan pengampunan oleh Presiden Donald Trump," kata pengacaranya, David Markus, dalam sebuah pernyataan resmi. Markus menegaskan bahwa hanya Maxwell yang dapat memberikan penjelasan lengkap mengenai tindakan Epstein.

"Beberapa orang mungkin tidak menyukai apa yang mereka dengar, tetapi kebenaran itu penting. Misalnya, baik Presiden Trump maupun Presiden Bill Clinton tidak bersalah atas pelanggaran apa pun. Hanya Nona Maxwell yang dapat menjelaskan mengapa, dan publik berhak atas penjelasan itu," ucap Markus lebih lanjut.

Respons Politik dan Rencana Kesaksian Selanjutnya

Partai Demokrat menuduh Maxwell memanfaatkan kesaksiannya sebagai alat tawar-menawar untuk mendapatkan pengampunan dari Trump. Sementara itu, Ketua Komite Pengawasan DPR AS, James Comer, dari Partai Republik menyatakan bahwa dia tidak mempercayai Maxwell pantas mendapatkan pengampunan.

"Sayangnya, hari ini dia memiliki kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dimiliki setiap warga Amerika, pertanyaan yang sangat penting dalam penyelidikan ini, dan dia memilih untuk menggunakan haknya berdasarkan Amandemen Kelima," kata Comer kepada wartawan.

Selain Maxwell, Komite Pengawasan DPR AS telah menjadwalkan lima kesaksian lainnya sebagai bagian dari penyelidikan terhadap dokumen Epstein. Kesaksian tersebut akan melibatkan miliarder dan pendiri Victoria's Secret, Les Wexner, pada 18 Februari; mantan Presiden AS Bill Clinton pada 26 Februari; mantan Ibu Negara AS dan mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton pada 27 Februari; serta akuntan Epstein pada 11 Maret dan pengacara Epstein pada 19 Maret.

Departemen Kehakiman AS telah merilis jutaan halaman dokumen terkait penyelidikan Epstein, yang mencakup 38.000 kali penyebutan nama Trump dalam lebih dari 5.300 berkas, menurut peninjauan materi oleh New York Times. Kasus ini terus menarik perhatian publik karena melibatkan tokoh-tokoh terkemuka dan menyoroti isu kejahatan seks serta perdagangan manusia.