Kronologi Pembebasan 9 WNI dan Diplomasi Tiga Negara
Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) ke Gaza, Palestina, akhirnya dibebaskan dan tiba di Indonesia pada Minggu (24/5) sore. Mereka adalah relawan dan jurnalis dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang sebelumnya diculik oleh pasukan Israel di perairan internasional.
Identitas Sembilan WNI yang Dibebaskan
Kesembilan WNI tersebut terdiri dari jurnalis Republika Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, jurnalis Tempo TV Andre Prasetyo Nugroho, jurnalis atau tim media GPCI Rahendro Herubowo, Andi Angga Prasadewa dari Rumah Zakat, Herman Budianto Sudarno dan Ronggo Wirosanu dari Dompet Dhuafa, serta Hendro Prasetyo dan Asad Aras Muhammad dari GPCI.
Penculikan Bertahap di Laut Lepas
Penculikan dilakukan Israel secara bertahap sejak Senin (18/5) di perairan internasional saat kapal-kapal GSF berlayar menembus blokade Gaza. Pada Rabu (20/5), Kementerian Luar Negeri RI memastikan seluruh sembilan WNI telah diculik. Tentara Israel kemudian membawa para relawan ke Pelabuhan Ashdod, Israel Selatan. Setidaknya sepuluh kapal ditangkap, termasuk Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys.
Penyiksaan Keji yang Dialami WNI
Para WNI mengaku mengalami penyiksaan berat selama ditahan. Rahendro Herubowo, eks jurnalis iNews, mengaku ditendang, diinjak, dan disetrum. "Saya ditendang 3-4 kali di bagian depan, belakang diinjak, dan terakhir disetrum," katanya. Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo TV juga mengaku disetrum dan dipaksa menunduk dengan tangan terikat kencang. Penyiksaan makin parah saat tiba di Ashdod. "Kepala saya cekung, tangan diikat terlalu kencang hingga peredaran darah macet," ujarnya.
Diplomasi Kilat Kemlu RI
Kemlu RI bergerak cepat setelah mengetahui penculikan. Juru bicara Kemlu Yvonne Mewengkang menyatakan upaya diplomatik dilakukan untuk mempercepat pembebasan, termasuk melalui negara-negara sahabat. Indonesia bersama Turki dan Spanyol mengeluarkan pernyataan bersama mengecam serangan Israel dan menuntut akses bantuan.
Menlu RI Sugiono mengakui sulit memantau kondisi para WNI karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, diplomasi jalur ketiga dimanfaatkan melalui Turki, Yordania, dan Mesir. "Kami berkomunikasi dengan KBRI di Yordania dan Turki untuk memastikan kondisi rekan-rekan yang ditahan," kata Sugiono di kompleks parlemen, Rabu (20/5).
Peran Kunci Turki dalam Pembebasan
Anggota Steering Committee GSF Maimun Herawati mengungkapkan Turki memainkan peran besar. Ankara mengirim tiga pesawat untuk memulangkan puluhan relawan GSF dari berbagai negara, termasuk sembilan WNI. Awalnya Turki hanya menyediakan satu pesawat untuk 90 relawan asal Turki, namun atas permintaan panitia, semua relawan dibawa ke Istanbul. "Turki bersedia mengirim tiga pesawat, membantu hotel, medical check-up, dan seterusnya," ujar Maimun.
Menlu Sugiono menyampaikan terima kasih kepada Presiden, Komisi I DPR, GSF, GPCI, serta pemerintah Turki, Yordania, dan Mesir. "Khususnya pemerintah Turki yang membantu penjemputan dari Ashdod," tutupnya.



