Trump Ancam Ambil Alih Selat Hormuz, Tuntut Bayaran dari Sekutu
Trump Ancam Kuasai Selat Hormuz, Minta Imbalan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait Selat Hormuz. Dalam wawancara telepon dengan program "Fox & Friends" di Fox News, Senin (13/7/2026), Trump menegaskan bahwa AS kemungkinan besar akan mengambil alih kendali atas selat strategis tersebut dan menuntut pembayaran dari negara-negara yang diuntungkan oleh keamanan jalur pelayaran itu.

Pernyataan Trump: Malaikat Pelindung Selat

Trump menyatakan bahwa AS akan menjadi pelindung Selat Hormuz, bahkan menyebut diri mereka sebagai "malaikat pelindung selat" (the guardian angel of the strait). Ia menuntut penggantian biaya atas peran AS dalam mengamankan jalur pelayaran komersial yang sangat vital bagi pasokan minyak global. "Kami akan mempertahankan selat itu, dan kami mungkin akan mengoperasikannya. Kami akan menjadi pelindung selat tersebut. Mungkin kita akan menyebutnya malaikat pelindung selat. Dan kita harus mendapatkan penggantian biaya untuk hal itu," ujar Trump, sebagaimana diberitakan Reuters.

Implikasi bagi Pasokan Minyak Global

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran kritis yang menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar global. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melewati selat ini setiap hari. Langkah Trump untuk mengambil alih kendali selat tersebut dapat memicu ketegangan diplomatik dengan negara-negara tetangga, termasuk Iran yang selama ini mengklaim hak pengawasan atas wilayah tersebut. Analis internasional memperingatkan bahwa tindakan sepihak AS dapat mengganggu stabilitas harga minyak dan keamanan energi global.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Reaksi Internasional

Pernyataan Trump langsung menuai reaksi dari berbagai pihak. Iran, melalui Kementerian Luar Negerinya, mengecam pernyataan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan. Sementara itu, beberapa negara sekutu AS di kawasan seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab belum memberikan tanggapan resmi. Pakar hubungan internasional menilai bahwa tuntutan kompensasi Trump mencerminkan pendekatan transaksional dalam kebijakan luar negeri AS yang berpotensi mengikis kepercayaan mitra tradisional.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga