Kanselir Jerman Friedrich Merz awalnya optimis memiliki hubungan baik dengan Presiden AS Donald Trump, sebuah keistimewaan yang jarang dimiliki pemimpin Eropa lainnya. Dalam satu tahun masa jabatannya, Merz tercatat tiga kali mengunjungi Gedung Putih. Pertemuan kedua pemimpin selalu berlangsung hangat, meskipun di dalam negeri Merz dikritik karena terlalu berusaha menyenangkan Trump. Hubungan transatlantik saat itu tampak stabil di tengah gejolak global.
Perubahan Drastis Pasca Perang Iran
Namun, situasi berubah cepat sejak pecahnya Perang Iran. Komentar pedas Merz yang menyebut AS tidak memiliki strategi jelas dan dipermalukan oleh Iran memicu kemarahan Trump. Melalui Truth Social, Trump membalas dengan menyebut Merz "tidak tahu apa yang dia bicarakan" dan menambahkan "tidak heran jika kondisi Jerman begitu buruk."
Konsekuensi Militer dan Ekonomi
Tak lama kemudian, Trump mengumumkan rencana penarikan 5.000 tentara AS dari Jerman dalam setahun, bahkan menyebut kemungkinan pengurangan yang lebih besar. Penempatan rudal Tomahawk yang dijanjikan pemerintahan Biden juga ditunda. Pakar keamanan Carlo Masala menilai langkah ini menciptakan celah keamanan besar dalam upaya menangkal Rusia. Di sisi ekonomi, Trump menaikkan tarif impor mobil dari UE dari 15 menjadi 25 persen. Ekonom Clemens Fuest memperingatkan resesi baru karena kebijakan ini menghantam industri otomotif Jerman yang sudah lemah.
Merz mencoba meredam kekhawatiran dengan menyatakan rencana pengurangan pasukan bukan hal baru dan tidak terkait perselisihannya dengan Trump. Henning Hoff, pakar hubungan luar negeri Jerman, mengingatkan bahwa Trump pernah mengancam penarikan 12.000 tentara pada 2020, yang akhirnya batal setelah Biden menang. Hoff menilai belum tentu Trump melaksanakan ancamannya kali ini.
Hubungan yang Naik Turun
Sejak awal masa jabatan kedua Trump, hubungan transatlantik sering merenggang. Saat Trump mempermalukan Presiden Ukraina Zelensky pada Februari 2025, Merz yang belum menjadi kanselir bereaksi keras dan menyerukan kemandirian Eropa dari AS. Hubungan memburuk setelah AS menerapkan tarif impor baru terhadap barang Eropa, memukul ekonomi Jerman. Meski demikian, kunjungan resmi pertama Merz ke Washington pada Juni 2025 berjalan baik karena ia menyetujui peningkatan anggaran pertahanan.
Konflik Baru Bermunculan
Memasuki pergantian tahun 2025–2026, ketegangan meningkat. Strategi keamanan nasional AS memperingatkan ancaman "kehancuran peradaban" akibat migrasi di Eropa. Pasukan khusus AS menyerang Venezuela dan menculik Presiden Maduro. Merz menanggapinya dengan hati-hati, menyebut status hukumnya rumit. Kontroversi lain muncul saat Trump mengancam merebut Greenland, namun sikap tegas Eropa membuatnya mundur.
Kunjungan Merz ke Washington pada Maret 2026, setelah pecah perang Iran, kembali positif. Merz tidak berniat "menguliahi" Trump soal hukum internasional, dan Trump menyebutnya "teman" dan "pemimpin yang luar biasa." Namun, kritik di Eropa menilai Merz terlalu berusaha menyenangkan Trump, termasuk saat mendukung kritik Trump terhadap Spanyol yang kurang dalam anggaran pertahanan.
Upaya Meredakan Ketegangan
Strategi Merz terhadap Trump diyakini berparas ganda: menjaga hubungan baik sambil sesekali mengkritik secara hati-hati. Ketergantungan militer Eropa pada AS, terutama dalam Perang Ukraina, masih terlalu besar. Setelah perselisihan terbaru, Merz menegaskan tidak akan menyerah menjaga hubungan transatlantik dan akan terus bekerja sama dengan Trump. Ia masih memiliki kesempatan bertemu dalam pertemuan G7 di Prancis dan KTT NATO di Turki.
Henning Hoff optimistis Merz dapat memperbaiki keadaan melalui dialog langsung. Ia bisa menawarkan kontribusi konkret, seperti membantu menstabilkan kawasan Teluk pasca perang Iran dan menjamin kebebasan pelayaran. Pengiriman kapal penyapu ranjau Fulda ke Laut Mediterania menjadi salah satu sinyal. Hoff juga menekankan bahwa banyak anggota Partai Republik di Kongres masih memahami pentingnya kehadiran militer AS di Jerman dan Eropa. Tanpa kehadiran itu, AS berisiko kehilangan statusnya sebagai kekuatan dunia.



