Macron Tegaskan Perubahan Rezim Iran Tak Bisa Dicapai Hanya dengan Serangan Bom
Macron: Perubahan Rezim Iran Tak Cuma dengan Bom

Macron Tegaskan Perubahan Rezim Iran Tak Bisa Dicapai Hanya dengan Serangan Bom

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan pandangan tegas bahwa perubahan besar pada kepemimpinan Iran tidak mungkin terjadi "hanya melalui bombardir Amerika Serikat-Israel." Pernyataan ini disampaikan Macron selama kunjungannya ke kapal induk Charles de Gaulle milik Prancis yang saat ini berada di perairan Mediterania pada hari Senin (9/3) waktu setempat.

Perang Bisa Berlanjut Beberapa Minggu

Menurut Macron, perang di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, dapat berlanjut selama "beberapa minggu" ke depan. "Saya rasa Anda tidak dapat mencapai perubahan rezim yang besar atau perubahan dalam sistem politik hanya dengan bombardir," tegas pemimpin Prancis tersebut, seperti dilansir dari Al Arabiya, Selasa (10/3/2026).

Macron menjelaskan bahwa konflik ini sedang berada dalam fase intens yang mungkin berlangsung "beberapa hari, mungkin beberapa minggu." Pernyataan ini menggarisbawahi kompleksitas situasi geopolitik di kawasan tersebut, di mana solusi militer semata dinilai tidak cukup untuk menciptakan transformasi politik yang mendalam.

Persiapan Misi Pertahanan di Selat Hormuz

Di sisi lain, Macron mengungkapkan bahwa Prancis bersama sekutu-sekutunya sedang mempersiapkan misi "pertahanan" untuk membuka kembali Selat Hormuz yang sangat strategis. Selat ini merupakan jalur perairan utama Teluk yang dilalui oleh seperlima minyak mentah global, dan lalu lintas maritimnya hampir terhenti sejak perang pecah.

"Ini penting untuk perdagangan internasional, tetapi juga untuk aliran gas dan minyak, yang harus dapat meninggalkan wilayah ini kembali," ujar Macron selama kunjungannya ke Siprus untuk membahas keamanan regional. Misi ini bertujuan untuk mengawal kapal-kapal kontainer dan tanker agar selat tersebut secara bertahap dapat dibuka kembali "setelah berakhirnya fase terpanas konflik."

Kolaborasi Negara Eropa dan Non-Eropa

Dalam pembicaraan bersama Presiden Siprus Nikos Christodoulides dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis, Macron menegaskan bahwa "misi yang murni defensif, murni dukungan" akan dibentuk oleh negara-negara Eropa dan non-Eropa. Uni Eropa pada hari Senin (9/3) juga menyatakan kesiapannya untuk "meningkatkan" operasinya dalam melindungi lalu lintas maritim di Timur Tengah.

Uni Eropa telah membahas penguatan misi angkatan lautnya di Laut Merah setelah serangan AS-Israel terhadap Iran memicu perang regional yang lebih luas. Langkah ini menunjukkan upaya kolektif untuk menstabilkan kawasan sekaligus menjaga kepentingan ekonomi global yang sangat bergantung pada aliran energi dari wilayah tersebut.

Kunjungan Macron ke kapal induk Charles de Gaulle, yang dikirim ke Mediterania pasca-serangan 28 Februari, menandai komitmen Prancis dalam mengawal dinamika konflik yang terus berkembang. Pernyataannya tidak hanya menyoroti batasan pendekatan militer, tetapi juga menekankan pentingnya diplomasi dan kerjasama internasional dalam menyelesaikan krisis yang berpotensi memperpanjang ketegangan di Timur Tengah.