Rupiah Tembus Rp 17.500 per Dollar AS, Harga Barang Impor Terancam Naik
Rupiah Tembus Rp 17.500, Harga Barang Impor Terancam

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan signifikan. Pada pertengahan Mei 2026, rupiah menembus level psikologis Rp 17.500 per dollar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan potensi kenaikan harga berbagai barang, terutama yang bergantung pada bahan baku impor.

Faktor Eksternal Tekan Rupiah

Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan eksternal yang kuat. Tingginya harga minyak dunia menjadi salah satu faktor utama. Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi, sehingga lonjakan harga minyak memberikan dampak langsung pada nilai tukar.

Dampak pada Harga Barang

Dengan pelemahan rupiah, harga barang-barang impor diprediksi akan naik. Produk-produk yang menggunakan bahan baku impor, seperti elektronik, otomotif, dan bahan makanan olahan, berpotensi mengalami kenaikan harga. Hal ini dapat menekan daya beli masyarakat dan memicu inflasi.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram
  • Harga minyak dunia yang tinggi memperburuk defisit transaksi berjalan.
  • Ketergantungan impor energi membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga global.
  • Sejumlah harga komoditas global masih berada di atas asumsi APBN 2026, menambah tekanan.

Skenario Terburuk

Sebelumnya, rupiah sempat mencatat rekor terlemah di level Rp 17.600 per dollar AS. Ekonom memperkirakan dua skenario terburuk jika pelemahan terus berlanjut. Pemerintah diharapkan mengambil langkah stabilisasi untuk mencegah dampak lebih luas pada perekonomian.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga