Macron Desak AS-Iran Koordinasi Buka Kembali Selat Hormuz
Macron Desak AS-Iran Buka Selat Hormuz

Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz secara terkoordinasi. Desakan ini disampaikan saat militer AS mengerahkan misi mengawal kapal-kapal keluar dari jalur perairan strategis yang menjadi tulang punggung pasokan minyak dan gas global.

"Yang paling kami inginkan adalah pembukaan kembali secara terkoordinasi oleh Amerika Serikat dan Iran -- itulah satu-satunya solusi untuk membuka kembali Selat Hormuz," ujar Macron dalam pertemuan para pemimpin Eropa di Armenia, seperti dilansir AFP pada Senin, 4 Mei 2026.

"Kami tidak akan ikut serta dalam operasi militer apa pun dalam kerangka kerja yang menurut saya tidak jelas," tegasnya. Prancis bersama Inggris telah memimpin upaya membentuk koalisi untuk membuka kembali Selat Hormuz setelah perdamaian terjamin.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Gangguan Aktivitas Pelayaran

Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz sangat terganggu sejak perang berkecamuk antara AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu. Pada 2 Maret, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan Selat Hormuz ditutup untuk lalu lintas maritim, membatasi perlintasan di jalur vital tersebut dan mengguncang pasar energi global.

Selat Hormuz yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia menjadi fokus perselisihan terbaru antara Iran dan AS. AS merespons dengan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk menekan Teheran membuka kembali selat tersebut.

Respons AS dan Iran

Presiden Donald Trump mengatakan AS akan mulai membantu membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz setelah sebuah kapal tanker dilaporkan terkena proyektil tak dikenal. "Kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari jalur air yang dibatasi ini," kata Trump di Truth Social pada Minggu, 3 Mei.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mendukung upaya tersebut dengan 15.000 personel militer, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, serta kapal perang dan drone. Sementara itu, Organisasi Maritim Internasional mencatat ratusan kapal dan 20.000 pelaut tidak dapat melewati Selat Hormuz selama perang AS-Israel melawan Iran.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga