Israel Langgar Gencatan Senjata Lagi, 12 Warga Gaza Tewas dalam Serangan Terbaru
Israel kembali melanggar gencatan senjata dengan melancarkan serangan udara di Gaza yang menewaskan belasan warga sipil. Insiden terbaru ini terjadi meskipun kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah memasuki fase kedua bulan lalu.
Korban Jiwa Berjatuhan dalam Serangan 24 Jam Terakhir
Pada Minggu (15/2), serangan Israel di Gaza menyebabkan setidaknya 10 orang tewas dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Jumlah korban kemudian bertambah menjadi 12 orang setelah serangan berlanjut. Badan Pertahanan Sipil Gaza yang beroperasi di bawah otoritas Hamas melaporkan bahwa serangan tersebut menghantam berbagai lokasi di wilayah Palestina.
Serangan udara Israel menargetkan tenda pengungsi di Jabalia di Gaza utara, menewaskan lima orang dan melukai beberapa lainnya. Dalam serangan terpisah di pagi hari di kota Khan Yunis di selatan, lima orang lagi tewas dan sejumlah warga mengalami luka-luka.
Laporan dari Lapangan dan Tanggapan Warga
Badan Pertahanan Sipil Gaza juga melaporkan satu orang tewas akibat penembakan oleh pasukan Israel di Kota Gaza. Selain itu, tembakan Israel menewaskan satu orang lagi di Beit Lahia di Gaza utara. Rumah sakit Al-Shifa dan Nasser mengkonfirmasi telah menerima setidaknya tujuh jenazah dari serangan-serangan tersebut.
Osama Abu Askar yang kehilangan keponakannya dalam serangan di Jabalia menyatakan dengan tegas, "Israel tidak memahami gencatan senjata atau perdamaian." Ia menambahkan bahwa warga Gaza dibunuh saat mereka sedang tidur, menunjukkan betapa brutalnya serangan tersebut.
Latar Belakang dan Konteks Konflik
Meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah dimulai kembali dengan dimulainya perkuliahan di Universitas Islam di Kota Gaza pada 2 Desember 2025, kekerasan terus berlanjut di wilayah Palestina. Israel masih terus melancarkan serangan ke Gaza tanpa menghiraukan kesepakatan yang telah dibuat.
Situasi ini semakin memprihatinkan mengingat serangan terbaru terjadi setelah Israel sebelumnya menjadikan tanah di Tepi Barat sebagai 'milik negara' yang memicu kemarahan Palestina. Konflik yang berkepanjangan ini terus menelan korban jiwa dari kalangan warga sipil yang tidak bersalah.