Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dengan tegas menyatakan bahwa negaranya saat ini tidak terlibat dalam negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini disampaikan di tengah situasi gencatan senjata antara kedua negara setelah 13 hari pertempuran sengit di kawasan Selat Hormuz.
Iran Bantah Klaim Minta Negosiasi
Dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Baqaei menegaskan klaim bahwa Iran telah meminta negosiasi adalah rekayasa yang sengaja disebarkan pihak tertentu. "Klaim bahwa Iran telah meminta negosiasi adalah rekayasa yang disebarkan pihak lain dari waktu ke waktu," ujarnya, sebagaimana dilansir kantor berita AFP pada Senin (27/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa para mediator mungkin menyampaikan pesan dari pihak Amerika kepada Iran, tetapi Teheran tidak terlibat dalam pembicaraan langsung dengan Washington. "Saat ini, kami tidak terlibat dalam negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat," tegas Baqaei.
Kritik terhadap Perilaku AS
Baqaei melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat, menyamakan perilaku Washington dengan geng mafia. "Selama perilaku seperti itu oleh Amerika Serikat berlanjut, kita tidak dapat berharap akan munculnya proses yang masuk akal," katanya. Ia menambahkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, perilaku AS "menyerupai geng mafia yang tidak mematuhi aturan atau hukum apa pun."
Konteks Konflik Selat Hormuz
Pertempuran antara Iran dan AS pecah awal Juli 2026 setelah upaya diplomatik gagal di tengah kebuntuan mengenai status Selat Hormuz. Konflik berlangsung selama 13 hari sebelum akhirnya dihentikan pada Sabtu pagi. Sejak itu, situasi keamanan di jalur perairan strategis tersebut tetap tegang.
Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terus mengawasi dan mengendalikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Pada Senin (27/7) pagi, IRGC mencegat dan menyuruh balik enam kapal yang mencoba melintas di luar rute yang ditetapkan oleh Republik Islam Iran. Langkah ini menunjukkan ketegasan Teheran dalam mempertahankan kontrol atas selat tersebut.
Peran Oman dan Ketegasan Iran
Iran menegaskan bahwa pengelolaan Selat Hormuz adalah masalah bilateral dengan Oman, tanpa melibatkan AS. "Pembicaraan ini tidak ada hubungannya dengan Amerika Serikat. Ini adalah masalah bilateral antara Iran dan Oman, dan pembicaraan tersebut masih berlangsung," jelas Baqaei. Ia menambahkan bahwa selat tersebut "tetap ditutup" bagi kapal yang tidak mengikuti aturan yang ditetapkan Iran.
Teheran bersikeras mempertahankan hak untuk memungut biaya layanan bagi kapal yang melintas, sambil tetap berkoordinasi dengan Oman yang berbatasan langsung dengan jalur perairan itu. Sikap ini mencerminkan posisi Iran yang tidak ingin ada intervensi asing dalam urusan kedaulatan maritimnya.
Dengan pernyataan keras ini, Iran menutup pintu dialog langsung dengan AS untuk saat ini, sembari tetap membuka saluran komunikasi melalui mediator seperti Oman. Situasi di Selat Hormuz masih menjadi perhatian internasional mengingat pentingnya jalur tersebut bagi pasokan energi global.



