Kementerian Luar Negeri Iran pada Rabu (15/7/2026) memanggil Duta Besar Inggris untuk Teheran, Hugo Shorter, sebagai protes atas keputusan Inggris yang memasukkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ke dalam daftar organisasi terlarang berdasarkan Undang-Undang Pencegahan Ancaman Negara. Langkah ini memicu kemarahan Teheran yang bersumpah akan memberikan respons balasan.
Pemanggilan Dubes Inggris
Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan bahwa pemanggilan tersebut dilakukan di Kementerian Luar Negeri Iran pada Rabu. Dalam pernyataannya, Iran menegaskan bahwa tindakan Inggris tersebut tidak beralasan dan akan dibalas dengan respons yang tegas dan timbal balik.
“Menyusul tindakan tidak beralasan pemerintah Inggris dalam memasukkan nama Korps Garda Revolusi Islam di bawah 'Undang-Undang Pencegahan Ancaman Negara', Hugo Shorter, duta besar Inggris untuk Teheran, dipanggil hari ini, Rabu... di Kementerian Luar Negeri,” demikian pernyataan IRNA, dikutip dari AFP pada Kamis (16/7/2026). Iran menambahkan bahwa langkah tersebut akan “dibalas dengan respons timbal balik dan tegas dari Iran”.
Larangan Inggris terhadap IRGC
Pemerintah Inggris pada Senin (13/7/2026) mengumumkan rencana untuk melarang IRGC karena dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional. Larangan ini juga mencakup sebuah kelompok terkait Iran yang dituduh melakukan serangkaian serangan terhadap komunitas Yahudi di London. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa siapa pun yang terbukti mendukung atau membantu kelompok-kelompok ini akan menghadapi hukuman penjara hingga 14 tahun.
Rancangan undang-undang larangan tersebut akan diajukan ke parlemen Inggris pada minggu ini. Selain IRGC, kelompok lain yang dilarang mencakup proksi dan relawan dari badan intelijen militer Rusia, GRU, serta Gerakan Islam Sahabat Kanan, sebuah kelompok yang terkait dengan Iran yang telah mengklaim serangan terhadap properti Yahudi di London.
Dasar Hukum Baru
Undang-undang baru ini memberikan pemerintah Inggris kekuasaan untuk menetapkan proksi-proksi negara asing yang dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional. Kementerian Dalam Negeri Inggris dalam pernyataannya menjelaskan bahwa langkah ini akan meningkatkan kemampuan pemerintah untuk melawan ancaman negara yang terkait dengan kekuatan asing, termasuk spionase, campur tangan asing dalam demokrasi, sabotase, dan serangan fisik.
Pengumuman larangan ini muncul setelah beberapa serangan anti-Semit terjadi di London awal tahun 2026, termasuk serangkaian serangan pembakaran terhadap sinagoge, ambulans komunitas, dan situs-situs Yahudi lainnya.
Ancaman Pembalasan Iran
Iran mengecam keras langkah Inggris dan mengancam akan mengambil tindakan balasan. Meskipun belum merinci bentuk pembalasan yang akan dilakukan, Teheran menegaskan bahwa tindakan Inggris tidak akan dibiarkan begitu saja. Ketegangan antara Iran dan Inggris diperkirakan akan meningkat menyusul keputusan ini.
Sebelumnya, hubungan kedua negara sudah tegang akibat berbagai isu, termasuk program nuklir Iran dan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah. Larangan terhadap IRGC ini menjadi babak baru dalam perselisihan diplomatik antara Teheran dan London.



