Arab Saudi Gagalkan Gelombang Serangan Udara Iran ke Aset Strategis
Riyadh kembali menjadi sasaran rentetan serangan udara dalam konflik regional yang memanas. Pertahanan udara Kerajaan Arab Saudi berhasil mencegat dan menghancurkan sedikitnya 24 serangan drone serta sejumlah serangan rudal balistik yang diluncurkan dari Iran sepanjang hari Kamis (12/3/2026) waktu setempat.
Target Utama: Ladang Minyak dan Pangkalan Udara Strategis
Menurut laporan resmi yang dikutip dari media Al Arabiya, Jumat (13/3/2026), beberapa drone terdeteksi meluncur ke arah Gurun Rub' Al Khali dengan tujuan menyerang ladang minyak Shaybah yang menjadi sasaran berulang dalam beberapa hari terakhir. Sementara itu, drone lainnya mengarah ke Provinsi Timur yang kaya akan sumber daya energi.
Dua serangan rudal balistik juga berhasil dinetralisir oleh sistem pertahanan udara Saudi. Satu rudal terdeteksi menuju Provinsi Timur, sedangkan rudal lainnya diluncurkan ke arah Pangkalan Udara Pangeran Sultan di al-Kharj – lokasi yang biasa menjadi tempat penempatan puluhan jet tempur milik Amerika Serikat.
Eskalasi Konflik yang Terus Meningkat
Serangan ini merupakan kelanjutan dari konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu. Arab Saudi, yang menjadi tuan rumah bagi aset-aset militer AS, secara konsisten menjadi target serangan balasan Teheran atas pengeboman yang dilakukan Washington dan Tel Aviv.
Sehari sebelumnya, pada Rabu (11/3), pertahanan udara Saudi telah menghancurkan sedikitnya 21 drone di dekat area Dammam, ditambah dua drone lainnya di area Gurun Rub Al Khali yang juga menargetkan ladang minyak Shaybah.
Peringatan Keras dari Pemerintah Saudi
Pemerintah Riyadh dengan tegas mengecam serangan-serangan ini sebagai eskalasi berbahaya yang tidak dapat dibenarkan dengan konsekuensi serius terhadap stabilitas regional. Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Saudi menegaskan bahwa tindakan Iran tidak mencerminkan prinsip-prinsip negara bertetangga yang baik dan tidak melayani kepentingan perdamaian.
"Kami menekankan bahwa tindakan Iran saat ini terhadap negara-negara kami tidak mencerminkan kebijaksanaan atau kepentingan untuk menghindari perluasan siklus eskalasi, di mana Iran akan menjadi pihak yang paling dirugikan," tegas pernyataan resmi tersebut.
Otoritas Saudi juga menegaskan kembali hak mereka untuk mengambil tindakan apa pun yang diperlukan guna melindungi rakyat, wilayah, dan kedaulatan negara dari ancaman eksternal yang terus berlanjut ini.
