Warga Kalianyar Jakbar Tolak TPS di Pinggir Jalan, Sampah Menumpuk hingga Viral
Warga Tolak TPS di Pinggir Jalan Kalianyar Jakbar

Warga Kalianyar Jakbar Menolak Keberadaan TPS di Pinggir Jalan

Warga di Jalan Kali Kanal Banjir Barat, Kalianyar, Tambora, Jakarta Barat, melakukan protes terhadap tempat penampungan sementara (TPS) sampah yang berlokasi di pinggir jalan. Mereka memasang spanduk penolakan karena sampah yang lama tidak diangkut telah mengganggu aktivitas sehari-hari dan menyebabkan kemacetan lalu lintas.

Penumpukan Sampah Akibat Gangguan di Bantargebang

Ketua RT 12 RW 01 Kalianyar, M. Toyib, menjelaskan bahwa penumpukan sampah terjadi akibat terganggunya pengiriman ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta bahkan sempat mengeluarkan instruksi pada 8 Maret agar warga tidak membuang sampah sementara waktu.

Sampah akhirnya menumpuk di wilayah permukiman padat tersebut, dan rekaman kondisi tersebut menjadi viral di media sosial. Dalam video yang beredar dari akhir Ramadhan hingga Lebaran, terlihat tumpukan sampah memanjang di sepanjang jalan yang berbatasan dengan Kali Kanal Banjir Barat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pengangkutan Sampah dan Persoalan Mendasar

Pada 24-25 Maret, sampah akhirnya diangkut hingga tuntas setelah Lebaran. Namun, spanduk protes masih terpasang karena persoalan mendasar belum teratasi. Ketiadaan lahan yang memadai menyebabkan oknum warga menggunakan pinggir jalan sebagai lokasi pembuangan sementara, memicu penolakan dari sebagian warga setempat.

"Warga kami memang menolak kalau sampah dibuang di situ lagi. Karena itu di jalan, bukan tempatnya," tegas Toyib. Ia menambahkan bahwa kondisi ini telah berlangsung sejak 2016, atau sekitar 10 tahun, tanpa solusi yang jelas.

Tuntutan Relokasi dan Keterbatasan Fasilitas

Warga berharap TPS direlokasi ke lokasi yang lebih layak, seperti di bantaran kali sekitar wilayah tersebut. Mereka telah mengusulkan hal ini dan menyurati dinas terkait, namun masih membutuhkan kajian dan keterlibatan semua pihak.

Selama ini, warga rutin membayar iuran sampah sebesar Rp 10 ribu per bulan sesuai ketentuan retribusi daerah. Namun, tanpa dukungan fasilitas yang memadai, persoalan sampah dinilai akan terus berulang. Toyib juga menyoroti keterbatasan armada pengangkut sampah di Kalianyar, yang hanya memiliki dua truk untuk melayani 101 RT dan 9 RW.

Dukungan untuk Pengelolaan Sampah yang Lebih Baik

Di sisi lain, warga siap mendukung pengelolaan sampah yang lebih baik, termasuk program pengolahan dan pemilahan sampah. Mereka berharap ada edukasi dan sosialisasi dari pemerintah untuk memilah sampah dengan benar.

"Kalau memang ada pengolahan sampah, kami minta diajarkan. Biar warga bisa memilah sampah dengan benar," ujar Toyib. Dengan demikian, solusi jangka panjang diperlukan untuk mengatasi masalah sampah yang telah lama mengganggu kenyamanan warga Kalianyar.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga