Heru Baskoro (84), putra dari pengetik naskah Proklamasi Sayuti Melik, kini menjalani perawatan dan rehabilitasi di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL), Kota Bekasi. Ia sempat viral karena sakit dan tinggal di kontrakan gang sempit. Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menemui langsung Heru Baskoro dan istrinya, Treyzia Noviani (65), di STPL Bekasi. Keduanya dipastikan akan mendapat pendampingan secara menyeluruh, mulai dari layanan residensial, rehabilitasi medis, hingga rehabilitasi psikososial.
Evakuasi dan Pendampingan dari Kemensos
Menurut Agus, Heru dan istrinya telah dievakuasi dari rumah kontrakan mereka di Rawalumbu, Kota Bekasi, sejak Senin (13/7/2026). Kunjungan itu dilakukan Agus mewakili Menteri Sosial Saifullah Yusuf untuk memastikan kondisi dan kebutuhan pasangan lansia tersebut terpenuhi. "Untuk sementara Pak Heru dan Ibu tinggal di sini. Akan ada bantuan medis dan psikososial, sehingga Pak Heru jika butuh sesuatu bisa bilang ke staf di sini. Di sini ada dokter juga," ujar Agus.
Agus memastikan kebutuhan sehari-hari Heru dan istrinya akan dipenuhi selama menjalani masa rehabilitasi di STPL. Dia juga meninjau langsung fasilitas serta layanan yang diberikan kepada pasangan tersebut. Selain itu, Agus memberikan motivasi kepada Heru dan istrinya agar tetap semangat menjalani proses pemulihan. Dia menegaskan Kemensos akan menjadi penghubung dengan berbagai pihak, termasuk keluarga, untuk memastikan Heru mendapatkan pelayanan dan pendampingan terbaik.
Kehidupan Mapan Sebelum Kembali ke Indonesia
Agus menjelaskan, kehidupan Heru Baskoro sebenarnya tergolong mapan sebelum kembali ke Indonesia. Sejak 1998 hingga 2024, Heru dan istrinya menetap di Kanada. Selama itu, Heru bekerja sebagai staf senior di sebuah perusahaan minyak dengan status penduduk tetap Amerika Serikat. Namun, kondisi berubah setelah Heru memutuskan pulang ke Indonesia pada 2024. Tak lama kemudian, dia mengalami gangguan pada mata kanannya yang menyebabkan penurunan penglihatan sehingga harus bolak-balik Indonesia-Kanada untuk menjalani pengobatan.
Masalah lain muncul enam bulan setelah Heru menetap di Indonesia. Dana pensiun yang selama ini menjadi sumber penghidupannya tidak lagi dapat dicairkan. Kondisi itu membuat Heru dan istrinya mengalami kesulitan finansial hingga terpaksa menjual seluruh aset yang mereka miliki. Untuk membantu penyelesaian persoalan tersebut, Kemensos akan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), serta Kementerian Kesehatan. Koordinasi itu mencakup upaya penyelesaian pencairan dana pensiun Heru sekaligus penanganan kesehatannya, mengingat dia membutuhkan operasi kornea mata.
"Tetapi, apa pun nanti Kemensos akan berdiskusi dengan kementerian terkait, termasuk dengan keluarga, kira-kira nanti jalan terbaiknya seperti apa. Apakah Kemenlu nanti melalui KBRI juga akan melakukan pengecekan apakah uang pensiunnya juga masih bisa dicairkan," kata Agus, dikutip dari Antara. Menurutnya, apabila persoalan dana pensiun dapat diselesaikan tanpa Heru harus kembali ke Kanada, hal itu akan menjadi pilihan terbaik mengingat kondisi kesehatannya saat ini. Agus menambahkan, pemerintah masih menunggu hasil koordinasi lintas kementerian bersama keluarga untuk menentukan langkah terbaik dalam penanganan Heru dan istrinya.
Gangguan Mata Sejak 2016 dan Riwayat Karier
Gangguan penglihatan yang dialami Heru bermula pada 2016. Kini, mata kanannya sudah tidak lagi berfungsi, sementara mata kirinya pun tidak lagi melihat dengan normal. Saat ditemui Liputan6.com pada Senin (13/7/2026), Heru menceritakan, setelah menikah pada 1998, dia tinggal jauh dari Indonesia. Heru saat itu merupakan permanent resident Amerika Serikat dan bekerja di sana. Treyzia, sang istri pun sempat berencana ikut menetap. Namun, kerinduan terhadap keluarga membuat proses pengurusan green card miliknya tidak dilanjutkan. Atas saran pengacara imigrasi, mereka kemudian mencoba tinggal di Kanada melalui jalur pendidikan. Awalnya hanya untuk sementara. Namun, sistem layanan kesehatan di Kanada membuat mereka memutuskan menetap lebih lama.
"Akhirnya jadi tertarik karena kesehatan terjamin. Kita pikir, sudah deh kita di sini saja," kata Treyzia. Sebelum kesehatannya menurun, Heru sempat berkarier sebagai Direktur Keuangan Trans Bakrie. Setelah itu ia bekerja di sebuah perusahaan minyak di Texas, Amerika Serikat. Perubahan mulai terjadi ketika gangguan mata yang dialaminya semakin berat. Berbagai upaya pengobatan dijalani menggunakan tabungan pribadi. Rumah keluarga di Indonesia akhirnya dijual untuk membiayai pengobatan tersebut.
Pada 2021, Heru datang ke Jakarta menjalani transplantasi kornea donor di salah satu rumah sakit mata terkenal. Harapannya sederhana, penglihatannya bisa kembali pulih. Namun hasil operasi tidak sesuai harapan. Setelah kembali ke Kanada, biaya pengobatan yang telah dikeluarkan juga tidak mendapat penggantian dari sistem kesehatan setempat. "Jadi kita sudah habis-habisan. Rumah dijual untuk berobat mata suami. Begitu balik lagi ke Kanada, reimburse-nya tidak diturunkan," tutur Treyzia.
Kondisi Kesehatan dan Dukungan dari Sekitar
Selain kehilangan penglihatan, Heru juga mengidap diabetes. Penyakit tersebut ikut memengaruhi fungsi sarafnya hingga mulai muncul gejala demensia. Masih ada satu pilihan pengobatan, yakni operasi menggunakan kornea buatan. Prosedur itu hanya tersedia di Kanada, Amerika Serikat, dan Jerman. Menurut Treyzia, operasi sebenarnya sudah dijadwalkan pada akhir Juli. Namun, keterbatasan biaya membuat keberangkatan mereka ke Kanada belum dapat dilakukan.
Di tengah situasi itu, Treyzia mengaku banyak dukungan justru datang dari teman, tetangga, hingga para relawan yang terus membantu mereka. "Teman saya tuh baik-baik, teman saya di Indonesia maupun yang di Kanada, paling rajin nelepon saya gimana kondisinya," ujarnya. Keterbatasan biaya bukan hanya membuat operasi Heru tertunda. Kebutuhan sehari-hari pasangan lansia itu pun banyak dipenuhi melalui bantuan orang-orang di sekitar mereka. Ada yang mengirim makanan, membelikan kebutuhan rumah tangga, membantu membayar kontrakan, hingga mengisi token listrik. "Kadang teman ngasih buat makan, kadang dari gereja atau Islamic Center sempat membantu," ujar anak angkat mereka, Shifa.



