Dalam beberapa hari terakhir, geliat kampus-kampus di Indonesia menuai kritik karena dianggap semakin menjauh dari fungsi sosialnya. Warga lokal sekitar kampus merasa asing dengan institusi yang dulu menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Kini, kampus lebih mirip perusahaan besar yang berorientasi pada keuntungan, dengan obsesi pada angka-angka di atas kertas.
Akreditasi dan Peringkat Lebih Penting dari Manfaat Sosial
Nilai sebuah kampus tidak lagi diukur dari seberapa besar manfaatnya bagi warga sekitar, melainkan dari capaian akreditasi, peringkat nasional dan internasional, jumlah profesor dan doktor, serta produktivitas dosen dalam menulis artikel di jurnal internasional berbahasa Inggris yang sulit dipahami masyarakat awam. Fenomena ini menandakan pergeseran paradigma pendidikan tinggi dari misi sosial ke arah kompetisi global.
Dosen Dikejar Target Publikasi, Ruang Kuliah Seperti Pabrik
Ruang kuliah pun berubah menjadi pabrik, di mana dosen dikejar target setoran tulisan ilmiah demi menaikkan pamor kampus. Hal ini mengorbankan kualitas pengajaran dan interaksi dengan mahasiswa. Banyak dosen yang lebih fokus pada riset dan publikasi daripada mengajar, sehingga proses belajar-mengajar menjadi kurang bermakna.
Dampak pada Mahasiswa dan Masyarakat
Mahasiswa menjadi korban dari sistem ini, karena mereka tidak mendapatkan pendidikan yang holistik dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Sementara itu, warga lokal kehilangan akses terhadap pengetahuan dan inovasi yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan. Kampus yang seharusnya menjadi agen perubahan sosial justru terjebak dalam logika pasar dan prestise akademik semu.
Kritik ini mengingatkan bahwa pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya mengejar angka-angka, tetapi juga membangun karakter, kepedulian sosial, dan kontribusi nyata bagi bangsa.



