Dandhy Laksono Buka Suara Soal Dana Film Pesta Babi: Pokoknya Ada
Dandhy Laksono Buka Suara Soal Dana Film Pesta Babi

Sutradara film dokumenter Dandhy Laksono angkat bicara mengenai sumber dana pembuatan film 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita'. Dalam wawancara dengan Pemimpin Redaksi Tribunnews, Dandhy menyebutkan bahwa ada sumber dana yang digunakan dalam produksi film tersebut. Ia bercanda bahwa dirinya berhak hanya menjawab 'pokoknya ada' karena tidak bertanggung jawab atas pajak yang dibayar masyarakat.

Pernyataan Dandhy Laksono

"Pokoknya ada. Saya berhak tuh ngomong 'pokoknya ada' karena saya enggak mempertanggungjawabkan pajak. Ya kan. Lebih bener kalau saya ngomong 'pokoknya ada'. Itu sah," ujarnya. Ia justru mempertanyakan mengapa inisiatif masyarakat sipil justru lebih mudah dicurigai terkait asal-usul pendanaannya.

Menurut Dandhy, hal serupa tidak terjadi pada asal-usul dana Pemilu oleh masing-masing kontestan Pilpres atau dana partai politik untuk membagikan sembako atau menggelar konser besar. "Orang justru lebih curious dengan inisiatif-inisiatif sipil seperti ini daripada dari mana sih duit capres untuk pemilu? Dari mana sih duit parpol bisa bagi-bagi sembako, bisa bikin konser gede? Dari mana sih duit jenderal-jenderal polisi dan tentara ketika dia mau promosi jabatan," tuturnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pentingnya Transparansi

Dandhy menekankan bahwa dalam karya jurnalistik, sangat penting untuk mengungkap sumber berita termasuk sumber pendanaannya. Melalui keterbukaan itu, publik dapat menilai apakah karya jurnalistik independen atau tidak. Oleh karena itu, ia menyebut dalam karya 'Pesta Babi', publik bisa melihat dengan jelas pihak-pihak yang terlibat melalui logo di poster dan di film tersebut. "Semua nama orangnya jelas, temen-temen bisa melihat logo-logo yang ada di poster film. Itulah para kolaborator. Jadi itulah lembaga-lembaga yang patungan untuk membiayai film ini," jelasnya.

Kru Bekerja Tanpa Bayaran

Ia juga menyebut seluruh kru yang terlibat dalam produksi film bekerja tanpa menerima bayaran. Termasuk dirinya sebagai sutradara, serta Cypri Paju Pale selaku produser hingga director of photography dan videografer. "Saya sebagai sutradara, Bang Cypri sutradara, para produser, para director of photography, videografer, itu enggak ada yang dibayar," katanya.

Dandhy mengatakan bentuk pendanaan dalam film tersebut tidak sebatas nominal uang semata, melainkan juga dalam bentuk alat atau tenaga. "Jadi itulah urunannya dalam bentuk orang dan alat, bukan dalam bentuk duit. Temen-temen yang punya duit, dia nyumbang transport-nya gitu. Tapi enggak ada honor," tuturnya. "Jadi kami semua bener-bener mengerjakan ini dengan gotong royong, dengan patungan, dan kami percaya bahwa usaha ini justru akan lebih membuat filmnya passionate," imbuhnya.

Komentar KSAD

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak mempertanyakan asal dana untuk pembuatan film dokumenter 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita'. "Sekarang permasalahannya, orang sampai membuat video, bagaimana ceritanya seperti ini segala macam, duitnya dari mana? Ya, coba aja, ya kan? Sampai datang ke sana, bikin video, terbang sini terbang sana, orang berduit lah," kata dia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga