BEM SI Tolak PSI? Cek Fakta Narasi Viral di Media Sosial
BEM SI Tolak PSI? Cek Fakta Narasi Viral

Sebuah narasi yang menyatakan Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menolak Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan keluarga mantan Presiden Joko Widodo beredar luas di media sosial pada akhir Juni 2026. Narasi tersebut disebarkan melalui unggahan berupa tangkapan layar sebuah artikel berita yang tidak jelas sumbernya.

Klaim Viral: BEM SI Minta Masyarakat Tenggelamkan PSI

Dalam unggahan yang beredar, disebutkan bahwa BEM SI membuat pernyataan resmi yang mengajak masyarakat untuk menolak PSI dan keluarga Jokowi. Bahkan, narasi tersebut menyebut mahasiswa meminta masyarakat untuk 'menenggelamkan' PSI. Unggahan ini langsung memicu perdebatan di platform media sosial seperti Twitter dan Instagram.

Namun, setelah dilakukan penelusuran fakta oleh tim redaksi, klaim tersebut tidak dapat diverifikasi kebenarannya. Tidak ditemukan pernyataan resmi dari BEM SI yang mendukung narasi tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Fakta: Tidak Ada Pernyataan Resmi BEM SI

Ketua BEM SI, Andi Pratama, membantah keras adanya pernyataan tersebut. Dalam wawancara dengan Kompas.com, ia menegaskan bahwa BEM SI tidak pernah mengeluarkan pernyataan menolak PSI atau keluarga Jokowi. "Kami tidak pernah membuat pernyataan seperti itu. Itu adalah hoaks yang sengaja disebarkan untuk memecah belah," ujar Andi pada 30 Juni 2026.

BEM SI sendiri merupakan organisasi payung yang mewadahi Badan Eksekutif Mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia. Organisasi ini kerap menyuarakan isu-isu kebangsaan dan demokrasi, namun tidak pernah secara spesifik menargetkan partai politik tertentu.

Penelusuran: Tangkapan Layar Artikel Palsu

Tangkapan layar yang digunakan dalam unggahan tersebut berasal dari artikel yang tidak memiliki kredibilitas. Tidak ada media arus utama yang memberitakan pernyataan BEM SI tersebut. Selain itu, format dan tata letak artikel dalam tangkapan layar tidak sesuai dengan standar jurnalistik media terpercaya.

Menurut pengamat media sosial, Ujang Komarudin, narasi seperti ini sering digunakan untuk kepentingan politik tertentu. "Hoaks seperti ini biasanya muncul menjelang pemilu atau saat tensi politik meningkat. Masyarakat harus lebih kritis dalam menyaring informasi," jelasnya.

Dampak dan Imbauan

Penyebaran hoaks ini berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat dan merusak citra BEM SI sebagai organisasi mahasiswa yang independen. BEM SI sendiri telah mengeluarkan pernyataan resmi melalui akun media sosialnya untuk mengklarifikasi bahwa informasi tersebut tidak benar.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi, terutama yang berasal dari sumber tidak jelas. Selalu cek fakta melalui media resmi atau situs fact-checking terpercaya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga