Fenomena Super El Nino diperkirakan tidak hanya memicu cuaca ekstrem, tetapi juga berpotensi menyebabkan lonjakan harga pangan global yang dampaknya bisa berlangsung hingga 2028. Peringatan ini disampaikan oleh sejumlah ekonom dan analis, sebagaimana dilansir dari The Guardian pada Selasa (14/7/2026).
Gangguan Produksi Pertanian Akibat Cuaca Ekstrem
Super El Nino merupakan fase El Nino yang sangat kuat, ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudera Pasifik yang jauh di atas normal. Fenomena ini dapat mengganggu produksi pertanian di negara-negara penghasil pangan utama, seperti Indonesia, Brasil, dan Australia. Cuaca ekstrem berupa kekeringan berkepanjangan dan banjir diperkirakan akan mengurangi hasil panen berbagai komoditas strategis.
Menurut laporan tersebut, pasokan beras, gandum, jagung, dan kedelai berisiko menyusut secara signifikan. Hal ini akan mendorong harga pangan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. "Dampak Super El Nino terhadap pertanian bisa sangat parah dan berlangsung lama, karena pemulihan produksi membutuhkan waktu," ujar seorang analis pertanian yang dikutip dalam laporan tersebut.
Lonjakan Harga Pangan hingga 2028
Para ekonom memperkirakan bahwa lonjakan harga pangan global akibat Super El Nino dapat bertahan hingga tahun 2028. Hal ini disebabkan oleh efek domino dari penurunan produksi, peningkatan biaya logistik, dan spekulasi pasar. Kenaikan harga pangan akan berdampak langsung pada daya beli masyarakat, terutama di negara-negara berkembang yang bergantung pada impor pangan.
"Kami melihat potensi krisis pangan yang serius jika tidak ada langkah mitigasi yang tepat. Negara-negara harus segera menyiapkan cadangan pangan dan diversifikasi sumber pasokan," tambah seorang ekonom dari lembaga riset internasional.
Dampak Ekstrem pada Berbagai Komoditas
Super El Nino tidak hanya memicu kekeringan, tetapi juga dapat menyebabkan banjir di beberapa wilayah. Kombinasi cuaca ekstrem ini akan mengganggu siklus tanam dan panen. Komoditas seperti beras dan gandum menjadi yang paling rentan karena ketergantungan pada curah hujan yang stabil. Sementara itu, produksi minyak sawit dan kopi juga terancam menurun akibat perubahan pola cuaca.
Pemerintah di negara-negara penghasil pangan mulai mengambil langkah antisipatif, seperti memperkuat sistem irigasi dan memberikan subsidi pupuk. Namun, para ahli menilai bahwa upaya tersebut mungkin belum cukup untuk mengatasi skala dampak Super El Nino.
Fenomena Super El Nino sendiri telah diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan terjadi pada pertengahan 2026. Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap potensi kenaikan harga pangan dan melakukan penyesuaian pola konsumsi.



