Gletser tropis di Puncak Jaya, Papua Tengah, yang dikenal sebagai 'salju abadi' Indonesia, kini berada dalam kondisi kritis. Berdasarkan laporan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), luas es yang tersisa hanya sekitar 0,09 kilometer persegi, atau setara 2 persen dari luas pada tahun 1988 yang mencapai 4,3 kilometer persegi. BMKG dalam pernyataan resminya menyatakan, "Tidak lama lagi, Indonesia mungkin akan kehilangan es abadinya untuk selamanya."
Penyusutan Ekstrem Gletser Puncak Jaya
Data BMKG menunjukkan penyusutan yang dramatis. Pada 1988, luas gletser tercatat 4,3 km², namun hingga September 2025 menyusut menjadi 0,09 km². Ketebalan es juga berkurang signifikan, dari 32 meter pada 2010 menjadi sekitar 4 meter pada 2023. Hasil pemantauan terbaru bahkan menunjukkan es di titik pengamatan tertentu telah mencair sepenuhnya. Laju penipisan es sejak 2006 diperkirakan mencapai 2 hingga 2,5 meter per tahun. BMKG memperkirakan es abadi ini bisa hilang total pada akhir 2026 atau awal 2027.
Penyebab Pencairan: Perubahan Iklim dan El Nino
Menurut BMKG, pencairan gletser dipicu oleh kombinasi perubahan iklim global dan fenomena El Nino yang meningkatkan suhu dan menyebabkan kondisi lebih kering di Indonesia. BMKG menegaskan, "Banyak peneliti memperkirakan es abadi di Papua hanya tinggal hitungan bulan sebelum benar-benar hilang." Peneliti Astronomi BRIN Prof. Thomas Djamaluddin menambahkan bahwa peningkatan temperatur global membuat lapisan es sulit terbentuk kembali. "Kalau es menghilang di Puncak Jaya tidak mungkin lagi kembali karena temperatur global terus meningkat, jadi makin panas," ujarnya pada Sabtu (4/7/2026). Ia juga menekankan bahwa pencairan ini merupakan dampak pemanasan global yang meluas.
Dampak Hilangnya Gletser bagi Lingkungan dan Masyarakat
BMKG menyoroti pentingnya Puncak Jaya bagi masyarakat adat Papua sebagai simbol budaya dan spiritual. Hilangnya lapisan es berarti hilangnya warisan alam yang telah ada selama ribuan tahun. Selain itu, gletser berperan menjaga keseimbangan air di Papua. "Es pegunungan menjaga keseimbangan air di Papua. Jika mencair, maka ekosistem, habitat satwa, dan lahan pertanian masyarakat bisa ikut terdampak," tulis BMKG dalam keterangan resminya. Prof. Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa secara lokal dampak langsung mungkin tidak signifikan karena prosesnya bertahap, namun secara global pencairan gletser berkontribusi pada kenaikan permukaan air laut.
Upaya yang Dapat Dilakukan
BMKG menyebut kondisi ini sebagai bukti nyata perubahan iklim. Dalam unggahannya, BMKG menyatakan, "Sulit dipercaya, tapi mungkin kita adalah generasi terakhir yang masih sempat melihat es abadi di Indonesia." Untuk memperlambat dampak, BMKG mengajak masyarakat melakukan langkah sederhana seperti menggunakan transportasi umum, menghemat energi dan air, menanam pohon, mendaur ulang sampah, dan memilih produk ramah lingkungan. Upaya ini diharapkan dapat membantu menjaga kelestarian bumi.



