Calon presiden dari Partai Konservatif, Keiko Fujimori, secara resmi dinyatakan sebagai pemenang pemilihan Presiden Peru setelah penghitungan suara yang berlangsung selama berminggu-minggu. Kantor pemilihan Peru mengonfirmasi pada Jumat (3 Juli 2026) bahwa Fujimori, putri sulung mantan Presiden Alberto Fujimori, memenangkan putaran kedua yang digelar pada 7 Juni.
Kemenangan ini merupakan upaya keempat Fujimori untuk merebut kursi kepresidenan setelah gagal pada tahun 2011, 2016, dan 2021. Dalam unggahan di platform X setelah pengumuman resmi, Fujimori berterima kasih kepada para pemilih dan menyatakan bahwa Peru memasuki 'babak baru'. Ia berjanji memimpin transisi dengan 'kerendahan hati dan rasa tanggung jawab yang mendalam'.
Hasil Akhir dan Selisih Suara Tipis
Pengumuman resmi disampaikan beberapa hari setelah Kantor Proses Pemilu Nasional Peru merilis penghitungan suara akhir. Partai Fujimori, Kekuatan Populer, unggul atas kandidat sayap kiri Roberto Sánchez dari partai Bersama untuk Peru. Selisih suara hanya 49.641 dari sekitar 18 juta suara. Fujimori memperoleh 50,13% suara sah, sementara Sánchez mendapat 49,86%. Angka ini menjadikan pemilu ini sebagai salah satu yang terketat dalam sejarah Peru.
Fujimori (51) akan dilantik sebagai presiden pada 28 Juli dan diperkirakan menjabat selama lima tahun. Ia akan didampingi oleh Luis Fernando Galarreta sebagai Wakil Presiden pertama dan Miguel Ángel Torres Morales sebagai Wakil Presiden kedua.
Presiden Kesembilan dalam Satu Dekade
Dengan kemenangan ini, Fujimori menjadi presiden kesembilan Peru dalam sepuluh tahun terakhir. Ia mengambil alih negara setelah periode ketidakstabilan politik yang berkepanjangan, yang sering dikaitkan dengan warisan kepresidenan ayahnya, Alberto Fujimori. Sang ayah digulingkan pada tahun 2000 dan kemudian dihukum atas tuduhan korupsi, penggelapan, dan pelanggaran hak asasi manusia. Warisannya tetap memecah belah setelah pengampunan kontroversial pada tahun 2023.
Hasil pemilu diperkirakan akan membentuk kembali lanskap politik Peru. Sánchez sebelumnya menyatakan tidak akan mengakui pemerintahan Fujimori. Setelah pengumuman, ia menuduh adanya penyimpangan dalam pemungutan suara di luar negeri dan berencana mengajukan banding ke Komisi Hak Asasi Manusia Antar-Amerika (IACHR). Namun, Dewan Pemilihan Nasional Peru dalam deklarasi kemenangan Fujimori pada Jumat (3 Juli) menyatakan bahwa peninjauan tidak menemukan inkonsistensi dan menolak banding yang diajukan oleh Bersama untuk Peru.



