Desa Lohia Maluku Tanpa Faskes, Nenek Miskin Sakit Ditandu 5 Jam ke Puskesmas
Desa Lohia Maluku Tanpa Faskes, Nenek Ditandu 5 Jam

Seram, CNN Indonesia -- Belandina (70), seorang warga miskin dari Desa Lohia, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, harus menjalani perjalanan pahit demi mendapatkan pengobatan. Ia terpaksa ditandu sejauh 4 kilometer atau selama 5 jam oleh warga setempat untuk mencapai Puskesmas terdekat.

Peristiwa yang memilukan ini terjadi pada Rabu (20/5) sekitar pukul 09:00 WIT di sebuah desa yang termasuk termiskin di pelosok Pulau Seram Barat. Belandina, yang merupakan seorang nenek miskin, ditandu oleh sejumlah warga karena tidak ada jalan yang bisa dilalui ambulans untuk masuk ke kampungnya. Selain itu, desa mereka juga tidak memiliki tenaga kesehatan (nakes) sama sekali.

Medan Berat dan Perjuangan Warga

Selama perjalanan, rombongan harus melintasi medan pegunungan yang curam, melewati jalan berbatu dan berlumpur, serta menyeberangi sungai. Warga yang ikut serta bergantian menggotong Belandina menggunakan sebatang bambu dan sehelai kain yang berfungsi sebagai pelindung pasien selama perjalanan menuju puskesmas. Beberapa kali, rombongan terpaksa beristirahat di tengah hutan karena kondisi pasien yang lemah. Mereka memanfaatkan waktu istirahat untuk mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan. Setibanya di jalan atau perbatasan antara Desa Lohia dan Buria, mereka kemudian menumpangi truk pickup yang melintas.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kondisi Kritis Nenek Belandina

Nenek Belandina diketahui menderita stroke. Ia sudah terbaring selama belasan tahun tanpa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Kondisinya semakin memburuk dalam satu minggu terakhir. Meskipun keluarga telah berusaha melakukan pengobatan tradisional, kondisi Belandina tidak kunjung membaik. Keluarga bahkan sempat berjalan kaki selama satu jam ke kampung tetangga untuk mencari mantri keliling, dengan harapan bisa mendapatkan obat dengan biaya terjangkau.

“Ibu terkasih sudah sakit selama satu minggu terakhir, kondisi mulai memburuk, keluarga minta bantuan warga untuk menandu ibu terkasih ke puskesmas terdekat,” ujar Ferdinan, warga Desa Lohia, pada Kamis (21/5). Ia menambahkan bahwa di desanya tidak ada tenaga kesehatan. Jika ada warga yang sakit, mereka terpaksa mencari mantri keliling dengan mengeluarkan tenaga ekstra. “Desa kami tidak ada nakes, nakes cuma ada di Desa Buria, karena di sana ada puskesmas,” ucapnya.

Harapan Warga pada Pemerintah

Ferdinan berharap Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat segera membangun infrastruktur jalan yang memadai agar warga tidak lagi mengalami kesulitan, terutama saat mengantar orang sakit. Kondisi ini, menurut Ferdinan, sudah berlangsung sejak Indonesia merdeka, namun pemerintah masih mengabaikan penderitaan warga. Mereka mengaku sudah berulang kali menyampaikan keluhan tentang kondisi jalan aspal yang tidak ada di wilayah pegunungan kepada Bupati Kabupaten Seram Bagian Barat, mulai dari Bupati pertama Yakobus Puttileihalat, M. Yasin Payapo, hingga Asri Arman.

Warga berharap Presiden RI Prabowo Subianto bisa membangun jalan mereka karena sudah berulang kali mengadu ke bupati namun tidak mendapat respons. Mereka berharap pemerintah segera bertindak untuk mengakhiri penderitaan warga Desa Lohia yang terus terisolasi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga