BMKG: Indonesia Masuki Fase Kekeringan Hidrologis, Puncak Kemarau Agustus 2026
BMKG: Indonesia Masuki Fase Kekeringan Hidrologis, Puncak Kemarau

Indonesia saat ini tengah bergerak menuju fase kekeringan hidrologis seiring berlanjutnya musim kemarau yang diperkuat fenomena El Nino. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan resmi pada Jumat (19/6/2026) bahwa puncak musim kemarau diprediksi terjadi di sebagian besar wilayah pada bulan Agustus 2026. Kondisi ini menandai intensifikasi kekeringan yang dapat berdampak luas pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, dan ketahanan pangan nasional.

Puncak Kemarau pada Agustus 2026

Menurut BMKG, musim kemarau di Indonesia pada tahun 2026 akan berlangsung dalam durasi yang bervariasi di setiap wilayah. Sebagian besar zona musim (ZOM) diperkirakan mengalami kemarau selama 10 hingga 21 dasarian. Satu dasarian setara dengan 10 hari, sehingga rentang tersebut berarti antara 100 hingga 210 hari. Data BMKG menunjukkan bahwa 388 ZOM yang mencakup 47,45 persen luas daratan Indonesia akan mengalami durasi kemarau dalam kisaran tersebut.

Fenomena El Nino yang masih aktif memperkuat kekeringan dengan mengurangi curah hujan secara signifikan. BMKG menegaskan bahwa El Nino tahun ini masuk dalam kategori moderat hingga kuat, sehingga dampaknya terhadap pengurangan pasokan air cukup serius. Wilayah yang paling terdampak diperkirakan meliputi sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Kalimantan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Durasi Kemarau Lebih Panjang dari Normal

Jika dibandingkan dengan rata-rata iklim normal, durasi musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang. BMKG mencatat bahwa 437 ZOM yang mencakup 48,77 persen luas daratan Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normalnya. Perpanjangan ini meningkatkan risiko kekeringan hidrologis, yaitu kondisi di mana ketersediaan air tanah dan permukaan turun drastis.

Kekeringan hidrologis berbeda dengan kekeringan meteorologis yang hanya mengukur curah hujan. Fase ini mengindikasikan bahwa cadangan air di sungai, waduk, dan akuifer sudah mulai menipis. BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mulai melakukan konservasi air dan mengoptimalkan penggunaan air bersih.

Dampak dan Imbauan BMKG

Kekeringan yang berkepanjangan dapat mengganggu produksi pangan, terutama padi dan palawija yang bergantung pada irigasi. Selain itu, risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat. BMKG meminta seluruh pihak untuk waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh kemarau ekstrem. Masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran lahan dan melaporkan titik api.

BMKG akan terus memantau perkembangan cuaca dan iklim. Data terbaru menunjukkan bahwa sebagian wilayah Indonesia bagian selatan akan mengalami kemarau lebih awal, sementara bagian utara sedikit terlambat. Namun, puncak kemarau tetap diprediksi serempak pada Agustus 2026. Pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi, termasuk distribusi air bersih dan pompanisasi untuk daerah rawan kekeringan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga