Bamsoet Soroti Pentingnya Competitive Intelligence untuk Jaga Reputasi BUMN
Bamsoet: Competitive Intelligence Kunci Reputasi BUMN

Bamsoet Tekankan Competitive Intelligence sebagai Prioritas Transformasi BUMN

Anggota DPR RI Bambang Soesatyo, yang akrab disapa Bamsoet, menegaskan bahwa penguatan competitive intelligence harus menjadi agenda prioritas dalam transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pernyataan ini disampaikan di tengah arus informasi digital yang deras dan meningkatnya kritik publik terhadap tata kelola perusahaan, di mana reputasi BUMN disebut sebagai faktor penentu keberlanjutan bisnis dan legitimasi sosialnya sebagai pengelola aset negara.

Reputasi BUMN sebagai Cermin Kepercayaan Rakyat

Bamsoet menjelaskan, "Reputasi BUMN adalah cermin kepercayaan rakyat terhadap negara. Ketika reputasi terganggu, dampaknya bisa meluas pada kepercayaan investor, stabilitas pasar, hingga legitimasi sosial perusahaan." Hal ini diungkapkan dalam keterangannya pada Kamis, 19 Februari 2026. Ia menambahkan bahwa BUMN perlu memiliki sistem competitive intelligence yang mampu membaca sentimen publik secara cepat dan akurat.

Pernyataan tersebut disampaikan Bamsoet dalam sambutannya di Sidang Promosi Doktor Ilmu Manajemen untuk Saut Situmorang di Universitas Persada Indonesia Y.A.I., Rabu, 18 Februari 2026. Saut berhasil mempertahankan disertasi berjudul 'Pengaruh Competitive Intelligence, Organisasi Pembelajaran dan Kompetensi Terhadap Komitmen Organisasional dan Implikasinya Pada Kinerja Karyawan PT Telkom' dengan hasil sangat memuaskan.

Kasus Korupsi Pertamina sebagai Peringatan Keras

Bamsoet menyoroti bahwa reputasi BUMN dalam beberapa tahun terakhir terus menjadi sorotan publik. Ia mengangkat contoh kasus dugaan korupsi tata kelola impor minyak mentah dan produk kilang di Pertamina, yang ditaksir merugikan negara hingga Rp 285 triliun. Kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana krisis tata kelola langsung berdampak pada persepsi publik.

"Di ruang digital, isu tersebut memicu gelombang kritik luas dan mempengaruhi citra korporasi secara signifikan," ujarnya. Bamsoet, yang merupakan Ketua DPR RI ke-20, menegaskan, "Kasus-kasus besar yang muncul harus menjadi peringatan keras. Jangan menunggu krisis membesar baru bergerak."

Dengan competitive intelligence, perusahaan dapat mendeteksi potensi isu sejak dini, memahami pola pemberitaan, serta menyiapkan respons berbasis data sebelum opini publik terbentuk liar.

Competitive Intelligence Lebih dari Sekadar Pantau Pesaing

Bamsoet menjelaskan bahwa competitive intelligence dalam konteks BUMN tidak hanya terbatas pada memantau pesaing bisnis. Melainkan, hal ini juga mencakup:

  • Pemetaan risiko reputasi
  • Analisis persepsi publik
  • Pengukuran efektivitas komunikasi perusahaan

Survei PERHUMAS Indicators menunjukkan bahwa tingkat inovasi BUMN dinilai publik berada di bawah sektor swasta, sekitar 69% berbanding 75,5%. Angka ini mengindikasikan masih perlunya perbaikan dalam membangun citra BUMN sebagai korporasi yang adaptif dan modern.

"Reputasi tidak dibangun melalui kerja sesaat. Reputasi tumbuh dari konsistensi tata kelola, transparansi, serta keberanian membuka data kepada publik. Competitive intelligence harus menjadi fondasi manajemen risiko reputasi di setiap BUMN," tegas Wakil Ketua Umum Partai Golkar tersebut.

Transformasi Digital dan Komunikasi Publik

Bamsoet menambahkan bahwa transformasi digital BUMN harus diiringi dengan transformasi komunikasi publik. Di era di mana lebih dari 210 juta penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet dan media sosial menjadi ruang utama pembentukan opini, setiap kebijakan korporasi dapat langsung diuji oleh publik.

BUMN yang mampu memanfaatkan analisis sentimen digital, media monitoring, dan pemetaan opini publik akan lebih siap menjaga stabilitas reputasinya. "BUMN mengelola aset rakyat dan memegang peran strategis dalam perekonomian nasional. Karena itu, membangun reputasi melalui pendekatan yang terukur dan berbasis data adalah keharusan," jelas Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran (UNPAD) tersebut.

"Dengan competitive intelligence yang kuat, BUMN akan lebih tangguh menghadapi krisis dan semakin dipercaya masyarakat," sambungnya.

Hadirin Sidang Promosi

Sidang promosi ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain:

  1. Mantan Kepala Badan Intelijen Negara Letjen TNI (Purn) Marciano Norman
  2. Mantan Ketua KPK Abraham Samad
  3. Mantan Ketua KPK Agus Rahardjo
  4. Mantan Komisioner KPK Basaria Panjaitan
  5. Mantan Wakil Ketua KPK Alexander Marwata dan Laode Muhammad Syarif

Kehadiran mereka menegaskan pentingnya topik competitive intelligence dalam konteks tata kelola dan reputasi BUMN di Indonesia.