Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa anggaran program imunisasi nasional pada tahun 2026 mengalami kekurangan sekitar Rp1 triliun akibat pemotongan anggaran. Hal ini disampaikan dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta pada Selasa (23/6).
Kekurangan Anggaran Imunisasi 2026
Menkes Budi menjelaskan bahwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) saat ini tengah mengajukan tambahan anggaran untuk menutupi kebutuhan tersebut. "Kalau gap 2026-nya sendiri, kita masih ada kekurangan Rp1 triliun, karena kemarin dipotong," kata Budi. Ia menambahkan bahwa pemotongan tersebut mencakup anggaran imunisasi dan vaksinasi. "Salah satu yang paling penting adalah, untuk 2026 ini karena kita dipotong, dipotong tuh termasuk anggaran imunisasi, anggaran vaksinasi. Bukan ininya ya, vaksinnya aja kita kurang. Kita kekurangan sekitar Rp1 triliun ya," ujarnya.
Rencana Imunisasi hingga 2029
Budi mengungkapkan bahwa Kemenkes telah menyusun rencana program imunisasi hingga tahun 2029 berdasarkan proyeksi jumlah kelahiran bayi. Secara total, kebutuhan anggaran program vaksinasi nasional hingga 2029 mencapai Rp44,49 triliun. Namun, masih terdapat total kekurangan sekitar Rp4,91 triliun. "Kita sudah punya rencana sampai 2029 sebenarnya, kita udah kasih juga ke Kementerian Keuangan dan Bappenas, ini rencana program imunisasi kita. Karena ini kan rutin, berdasarkan jumlah bayi lahir dan lain sebagainya. Jadi masih ada gap sekitar 4,91 triliun sampai 2029," imbuhnya.
Tiga Strategi Kemenkes untuk Imunisasi
Selain persoalan anggaran, Budi menyebut Kemenkes tengah menjalankan tiga strategi untuk program imunisasi nasional. Strategi pertama adalah memastikan seluruh infrastruktur layanan imunisasi tersedia secara memadai dalam dua tahun ke depan. "Kalau bisa dalam dua tahun ke depan gitu, udah selesai penyediaan infrastruktur layanan imunisasi. Kayak tadi, alat pendinginnya, ya. 100 persen kebutuhan cold chain itu harus ada," katanya.
Strategi kedua adalah memastikan siklus penyediaan vaksin mulai dari perencanaan, pengadaan, distribusi, hingga penyampaian kepada masyarakat berjalan baik setiap tahun. Strategi ketiga adalah edukasi. "Ketiga yang penting juga, yang dulu enggak terlalu banyak tapi sekarang jadi makin meningkat adalah edukasi, ya. Strategi mengenai edukasinya ini kita harus lebih serius, karena enggak tahu kenapa banyak orang-orang yang sekarang yang anti-vaksin," kata Budi.



