Agus Jabo Soroti Perebutan Sumber Daya Alam, Desak Indonesia Mandiri
Ketua Umum Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa Indonesia harus menjadi negara yang mandiri dan memiliki kepribadian kuat dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompetitif, terutama terkait perebutan sumber daya alam. Ia menilai bahwa kemandirian di sektor pangan dan energi adalah kunci utama bagi bangsa ini untuk bertahan dan berdaulat secara penuh.
Kemandirian sebagai Fondasi Kedaulatan
Menurut Agus Jabo, sejak era tribalisme hingga kapitalisme modern, sumber daya alam sering kali menjadi pemicu konflik antarnegara. Dalam situasi seperti ini, pihak yang memiliki kekuatan cenderung mencari legitimasi untuk menekan kelompok yang lebih lemah demi menguasai sumber daya tersebut. "Dalam banyak kasus, hukum dan demokrasi menjadi tidak lagi dominan. Yang berlaku adalah kekuatan dan kekuasaan. Konflik yang terjadi bukan lagi semata ideologis, tetapi lebih pada upaya mengamankan kepentingan masing-masing negara," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Selasa, 24 Maret 2026.
Ia menekankan bahwa ketersediaan pangan dan energi merupakan syarat mutlak bagi sebuah negara untuk tetap berdiri kokoh. Oleh karena itu, kedaulatan di dua sektor tersebut harus menjadi prioritas utama dalam kebijakan nasional. "Negara akan kuat jika mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Industrialisasi dan hilirisasi sumber daya alam yang berdaulat, dengan berlandaskan Pasal 33 UUD 1945, menjadi fondasi utama untuk mencapai hal tersebut," jelas Agus Jabo.
Program Pemerintah dan Tantangan yang Dihadapi
Dalam konteks pemerintahan saat ini, Agus Jabo menilai bahwa berbagai program yang dijalankan oleh Presiden Prabowo Subianto merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri dan berdaulat. Ia menyebutkan beberapa inisiatif konkret seperti hilirisasi sumber daya alam, kedaulatan pangan dan energi, program makan bergizi gratis, sekolah rakyat, koperasi desa, hingga kampung nelayan sebagai langkah menuju kemakmuran rakyat.
Namun, Agus Jabo juga mengingatkan bahwa terdapat tantangan serius dalam pelaksanaan program-program tersebut. Ia menuding adanya kelompok tertentu yang hanya mengejar keuntungan pribadi dan berupaya menghambat kebijakan kerakyatan pemerintah. "Ada kelompok yang saya sebut sebagai 'serakahnomics', yakni kekuatan imperialis dan oligarki yang ingin terus menguasai sumber daya alam Indonesia serta mengontrol ekonomi politik demi melindungi kepentingan kapitalnya," tegasnya.
Korupsi dan Upaya Delegitimasi
Lebih lanjut, Agus Jabo menyoroti praktik korupsi yang dinilai masih menjadi penghambat kemajuan bangsa. Ia juga mengkritik upaya-upaya untuk mendelegitimasi program pemerintah melalui berbagai cara, termasuk provokasi dan upaya memecah belah masyarakat. Menurutnya, di tengah ketidakpastian global saat ini, Indonesia perlu memperkuat kesadaran kebangsaan dan persatuan nasional.
"Kesadaran sebagai satu bangsa dengan satu tujuan harus kembali menyala. Persatuan nasional adalah kunci untuk menyelamatkan kepentingan bersama," tuturnya. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali pada jati diri nasional yang berlandaskan Pancasila dan meninggalkan praktik liberalisme yang dinilai merusak sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Optimisme Mencapai Cita-Cita Proklamasi
Dengan komitmen tersebut, Agus Jabo optimistis bahwa cita-cita Proklamasi untuk mewujudkan Indonesia yang kuat, mandiri, adil, makmur, dan berkepribadian dapat tercapai. "Kita harus memastikan tidak ada lagi ruang bagi imperialis, oligarki, dan koruptor di bumi Pancasila," tutupnya. Ia menambahkan bahwa kesejahteraan rakyat hanya bisa terwujud jika sumber-sumber kehidupan pokok dikelola secara berdaulat dan didistribusikan secara adil, dengan akses universal terhadap pendidikan, kesehatan, serta lapangan pekerjaan.



