Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., memberikan tanggapan kritis terhadap wacana pemerintah membentuk Universitas Republik Indonesia (URI). Ia menegaskan bahwa langkah tersebut membutuhkan kajian yang matang dan menyeluruh agar tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.
Kajian Komprehensif Diperlukan
"Rencana ini memerlukan kajian yang lebih komprehensif mencakup relevansi program, ketersediaan sumber daya manusia, dan dampaknya terhadap anggaran pendidikan nasional," ujar Achmad Nurmandi. Menurutnya, pembentukan universitas baru tidak cukup hanya didasarkan pada semangat politik, tetapi harus didukung oleh perencanaan akademik dan finansial yang solid.
Aspek relevansi program menjadi salah satu titik perhatian utama. URI disebut akan memprioritaskan bidang sains, teknologi, teknik, matematika (STEM) serta kesehatan dan kedokteran. Namun, Achmad mengingatkan bahwa setiap program studi yang dibuka harus sejalan dengan kebutuhan pasar kerja dan visi pembangunan jangka panjang Indonesia. Tanpa kajian yang mendalam, dikhawatirkan yang terjadi justru tumpang tindih dengan program yang sudah ada di universitas lain.
Ketersediaan SDM
Selain relevansi program, ketersediaan sumber daya manusia juga menjadi sorotan. Mendirikan perguruan tinggi berarti membutuhkan dosen berkualitas, tenaga kependidikan, serta peneliti yang kompeten di masing-masing bidang. Beberapa tahun terakhir, pemerintah kerap mengeluhkan kekurangan tenaga dosen di sejumlah perguruan tinggi negeri. Jika URI dikebut tanpa memperhitungkan hal ini, kualitas pendidikannya berisiko tidak sesuai standar.
Untuk itu, pengembangan SDM perlu direncanakan jauh hari. Bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi yang sudah mapan di dalam maupun luar negeri, atau dengan mempersiapkan program beasiswa pendidikan bagi calon dosen sebelum universitas beroperasi.
Dampak pada Anggaran Pendidikan
Pembentukan institusi pendidikan baru pasti memerlukan anggaran yang tidak sedikit. Mulai dari pembangunan gedung perkuliahan, laboratorium, perpustakaan, hingga biaya operasional tahun pertama. Jika tidak dihitung secara matang, anggaran yang dialokasikan untuk URI dapat mengurangi porsi pembiayaan untuk program-program yang selama ini menjadi prioritas, seperti peningkatan mutu sekolah dasar dan menengah, atau bantuan operasional sekolah.
Oleh karena itu, pemerintah perlu mempresentasikan rancangan anggaran yang transparan dan terukur. Achmad Nurmandi mengingatkan bahwa keberlanjutan pendanaan harus menjadi perhatian, bukan hanya biaya pembangunan awal.
Harapan dari Kampus Swasta
Sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka di Yogyakarta, UMY berharap masukan dari pihak kampus dapat didengar oleh pengambil kebijakan. Menurut Achmad, pengalaman perguruan tinggi yang sudah lama beroperasi sangat berharga untuk menghindari kesalahan dalam mendirikan universitas baru.
Wacana URI sendiri masih dalam tahap pembicaraan. Belum ada kepastian mengenai waktu pendirian dan kurikulum yang akan dipakai. Yang jelas, respons para akademisi seperti UMY menjadi catatan penting agar pemerintah tidak bertindak terburu-buru dalam merealisasikan rencana ini.



