Mensos Tinjau Program Taruna Bhakti Nusantara di Sekolah Rakyat Gresik
Mensos Tinjau Taruna Bhakti Nusantara di Sekolah Rakyat

"Kami bersyukur semua sudah berada di tempat masing-masing. Insya Allah nanti di sini akan membimbing, memberikan keteladanan untuk siswa-siswa Sekolah Rakyat dalam rangka penguatan kedisiplinan dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler," kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) di Gresik, Jawa Timur, Senin (3/8).

Pernyataan itu disampaikan Gus Ipul dalam peninjauan pelaksanaan program Taruna Bhakti Nusantara dan Masa Pengenalan Lingkungan Siswa (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Gresik. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur Restu Novi Widiani, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Gresik Ummi Khoiroh, Kepala SRT 1 Gresik Rangga Pratama Wahyudiarta, puluhan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), serta ratusan siswa SRT 1 Gresik.

Membentuk Kebiasaan Hidup Tertib dan Mandiri

Dalam implementasinya, pembinaan oleh Taruna Bhakti Nusantara diarahkan untuk membentuk kebiasaan hidup yang tertib dan mandiri di kalangan siswa. Para taruna akan mendampingi siswa dalam berbagai kegiatan, seperti kepramukaan, latihan baris-berbaris, menata tempat tidur, merawat barang pribadi, hingga membangun disiplin dalam menjalani aktivitas belajar sehari-hari di lingkungan asrama.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pelaksanaan tugas Taruna Bhakti Nusantara dimulai bersamaan dengan MPLS yang saat ini berlangsung di seluruh Sekolah Rakyat di Indonesia. Sebagaimana diketahui, lebih dari seribu personel dari unsur TNI dan Polri telah resmi bertugas di berbagai daerah untuk mendampingi kehidupan berasrama para siswa.

Proses Adaptasi Berjalan Baik

Gus Ipul menilai, di tengah masa adaptasi terhadap sistem pendidikan berasrama dan fasilitas sekolah yang sebagian masih dalam tahap penyempurnaan, proses itu berjalan baik. Menurutnya, para guru dan siswa saling beradaptasi dengan lingkungan baru.

"Guru-gurunya beradaptasi, kemudian juga anak-anaknya beradaptasi. Dengan gedung permanen yang mungkin belum 100 persen, kita tahu fasilitasnya cukup lengkap dan diharapkan benar-benar mendukung proses pembelajaran yang berkualitas," katanya.

Penjaringan Siswa dari Keluarga Miskin Ekstrem

Siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang direkrut melalui proses penjangkauan berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sebagian dari mereka pernah putus sekolah, bahkan belum pernah mengenyam pendidikan formal sama sekali.

Gus Ipul menjelaskan proses rekrutmen yang berlapis. "Ketika masuk ke sini dilakukan penjangkauan berbasis DTSEN. Setelah itu dimutakhirkan oleh para pendamping, dicek lapangan bersama dinas sosial, dilakukan dialog dengan orang tua. Kalau setuju, diteruskan kepada bupati untuk ditetapkan dan diusulkan kepada Kemensos, proses terakhir kita tetapkan sebagai siswa Sekolah Rakyat," paparnya.

Kebanggaan Personel Taruna Bhakti Nusantara

Salah satu personel Taruna Bhakti Nusantara yang bertugas di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Gresik, Letda Laut Bagus, mengaku bangga mendapat kesempatan mendampingi para siswa. Menurutnya, tugas ini adalah kesempatan untuk berkontribusi bagi generasi penerus bangsa.

"Ini adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi kami dapat ditugaskan memberikan sedikit kepada adik-adik kami yang nantinya menjadi generasi penerus kami," kata Bagus. Ia menyadari bahwa kehidupan berasrama dipenuhi rutinitas, namun rutinitas itu akan membentuk disiplin, tanggung jawab, dan rasa kekeluargaan yang kuat.

"Jadi yang saya harapkan adik-adik jangan pernah bosan dan jangan pernah merasa sendiri. Di dalam satu asrama kita adalah satu keluarga. Semua saling memiliki dan saling merangkul," ujarnya.

Disiplin dan Toleransi yang Dirasakan Siswa

Perubahan positif tersebut dirasakan oleh Arka Nanta Juanito Bolu. Satu tahun menjadi siswa Sekolah Rakyat, putra nelayan ini mengaku kini menjadi pribadi yang lebih disiplin. Ia juga mengikuti pembinaan karakter bersama Taruna Bhakti Nusantara, termasuk latihan baris-berbaris.

Berkat kedisiplinan dan kepercayaan diri yang ditunjukkannya, Arka dipercaya memimpin apel snack siang di hadapan ratusan siswa, Mensos Gus Ipul, dan Bupati Gresik Fandi Akhmad. "Di rumah saya tidak bisa disiplin. Masuk Sekolah Rakyat jadi bisa disiplin," kata Arka.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Arka juga merasakan suasana toleransi yang kuat di lingkungan sekolah. Pihak sekolah memberikan pendampingan kepada seluruh siswa tanpa membedakan agama, termasuk mengantar siswa nonmuslim untuk beribadah ke gereja. "(Bapak Kepsek) baik di mana Pak Kepsek bisa mengantarkan yang non-muslim ke gereja (untuk ibadah)," ceritanya.

Dalam peninjauan tersebut, Gus Ipul menyempatkan diri berdialog dengan para siswa Sekolah Rakyat dan menyaksikan penampilan baris-berbaris yang diperagakan siswa baru dan siswa lama di bawah bimbingan Taruna Bhakti Nusantara. Ia juga memberikan kuis pengetahuan kebangsaan, mengajak menyanyi bersama, dan bersalawat.

Kapasitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik

Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Gresik berdiri di atas lahan seluas 6,5 hektare dengan kapasitas 405 siswa. Rinciannya, 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 225 siswa jenjang SMA. Dari jumlah siswa SMA, 90 orang merupakan siswa reguler, 60 siswa titipan dari Kabupaten Lamongan, dan 75 siswa berasal dari Sekolah Rakyat Madrasah Aliyah (SRMA) 37 Gresik.

Target Nasional Capai 100 Ribu Siswa

Secara nasional, jumlah siswa Sekolah Rakyat kini telah mencapai lebih dari 43 ribu orang, terdiri atas lebih dari 28 ribu siswa baru dan lebih dari 15 ribu siswa lama. Pemerintah memperkirakan jumlah peserta didik tahun ini akan melampaui 45 ribu siswa.

Jika pembangunan gedung Sekolah Rakyat di berbagai daerah selesai sesuai rencana, kapasitas penerimaan pada tahun depan diproyeksikan melebihi 100 ribu siswa. Presiden Prabowo sendiri menargetkan setiap kabupaten dan kota memiliki gedung Sekolah Rakyat yang mampu menampung sekitar 1.500 hingga 2.000 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA.

"Insya Allah kita alokasikan tahun ini siswa lama dan siswa baru diperkirakan nanti lebih dari 45 ribu siswa. Tahun depan, kalau target pembangunan gedung-gedung selesai, itu lebih dari 100 ribu (siswa)," pungkas Gus Ipul.