Gempa Megathrust: Pakar Ungkap Mitos dan Fakta yang Beredar
Gempa Megathrust: Mitos dan Fakta Menurut Daryono

Indonesia kembali diingatkan tentang ancaman gempa megathrust setelah sejumlah peristiwa gempa besar melanda beberapa wilayah dalam beberapa tahun terakhir. Pakar gempa bumi dan tsunami dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menyebut bahwa banyak mitos dan fakta mengenai megathrust yang beredar di masyarakat. Pernyataan ini menjadi penting untuk dikaji karena kesalahan informasi dapat meningkatkan risiko bencana.

Sebagai negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, Indonesia adalah salah satu wilayah dengan aktivitas seismik tertinggi di dunia. Interaksi lempeng tektonik yang kompleks, termasuk Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik, menciptakan zona-zona subduksi yang menjadi sumber gempa besar, termasuk megathrust.

Memahami Gempa Megathrust

Gempa megathrust adalah gempa bumi yang terjadi di bidang kontak antar lempeng tektonik di zona subduksi. Zona ini berada di kedalaman relatif dangkal dan memiliki luas bidang kontak yang sangat besar, sehingga gempa yang dihasilkan cenderung berkekuatan mengerikan. Para ahli menyebut gempa megathrust sebagai salah satu jenis gempa paling merusak di dunia.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Karena terjadi di dasar laut, gempa megathrust juga sering memicu tsunami. Ketika lempeng yang berada di atas bergeser secara vertikal, volume air laut yang terangkat dapat menghasilkan gelombang tsunami yang menjalar ke pesisir. Itulah mengapa daerah yang berada di dekat zona megathrust memiliki risiko lebih tinggi terhadap bencana ganda.

Daftar Gempa Megathrust di Indonesia

Indonesia telah berkali-kali dihadapkan oleh gempa megathrust dengan kekuatan guncangan yang beragam. Salah satunya adalah gempa yang mengguncang Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, pada April 2023. Gempa itu memiliki magnitudo 6,9 dan guncangannya terasa kuat hingga ke sejumlah kabupaten di Sumatera Barat.

Selain itu, gempa megathrust juga sempat mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur, pada Februari 2026 dengan kekuatan magnitudo 6,4. Meski lebih kecil daripada gempa Mentawai, peristiwa ini memperlihatkan bahwa segmen megathrust selatan Jawa juga aktif. Pacitan memang berada di bagian selatan Pulau Jawa yang berhadapan langsung dengan zona subduksi.

Dua contoh itu menunjukkan bahwa potensi gempa megathrust tidaklah abstrak. Masyarakat perlu mewaspadai risiko tersebut tanpa harus panik. Upaya mitigasi dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalkan kerugian.

Mitos dan Fakta Megathrust Menurut Daryono

Daryono menyebut, ada berbagai mitos dan fakta mengenai megathrust yang beredar di masyarakat. Pernyataan ini menegaskan bahwa masih banyak informasi yang keliru di ruang publik. Sebagian orang mungkin menganggap megathrust akan terjadi sewaktu-waktu dengan prediksi yang pasti, sementara yang lain meremehkan dampaknya.

Penting untuk dipahami bahwa gempa bumi, termasuk megathrust, tidak dapat diprediksi secara pasti hingga saat ini. Para ilmuwan dapat memetakan zona potensi gempa dan menghitung probabilitas, tetapi tidak ada teknologi yang mampu menyebutkan kapan gempa akan terjadi. Di sinilah literasi kebencanaan berperan penting.

Masyarakat harus lebih kritis terhadap informasi yang tersebar di media sosial. Verifikasi kepada sumber resmi seperti BMKG atau lembaga terkait sangat diperlukan sebelum mengambil tindakan. Klarifikasi yang disampaikan para ahli juga wajib disebarluaskan agar mitos tidak kian melebar.

Mengapa Mitos dan Fakta Perlu Dibatasi

Perbedaan antara mitos dan fakta memiliki konsekuensi nyata dalam penanganan bencana. Ketika mitos dipercaya, masyarakat bisa mengambil langkah yang salah. Misalnya, banyak orang yang memilih lari sepanjang pantai ketika melihat air surut, padahal tanda itu merupakan indikasi datangnya tsunami. Pemahaman yang benar justru menyelamatkan nyawa.

Sebaliknya, anggapan bahwa gempa megathrust tidak berbahaya juga berisiko. Masyarakat menjadi tidak siap dan lengah, sehingga ketika gempa besar terjadi, kepanikan melanda. Oleh sebab itu, edukasi kebencanaan harus terus diperkuat di semua tingkatan.

Indonesia berpotensi menghadapi gempa besar dari sejumlah segmen megathrust, mulai dari barat Sumatera, selatan Jawa, hingga bagian utara Sulawesi dan Papua. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa segmen-segmen tersebut mampu menimbulkan gempa dengan magnitudo lebih dari 8,5. Namun, sekali lagi, besar magnitudo potensial tidak berarti gempa akan terjadi dalam waktu dekat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Peran Ahli dan Masyarakat

Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) dan para pakar seperti Daryono memiliki peran besar dalam memberikan informasi yang tepat kepada publik. Daryono berharap agar media tidak ikut menyebarkan ketakutan yang berlebihan, melainkan menjadi corong edukasi untuk membagikan fakta-fakta ilmiah.

Di sisi lain, pemerintah dan lembaga terkait juga perlu memastikan bahwa jalur evakuasi, simulasi bencana, dan sistem peringatan dini berjalan dengan baik. Masyarakat pun diimbau untuk aktif mengikuti program mitigasi yang diselenggarakan di daerah masing-masing.

Menghadapi ancaman megathrust bukan berarti hidup dalam ketakutan, melainkan hidup dengan kewaspadaan yang berbasis sains. Dengan memahami fakta dan membuang mitos, Indonesia dapat memperkuat ketahanan dalam menghadapi gempa dan tsunami. Klarifikasi dari para ahli seperti Daryono menjadi salah satu kunci dalam upaya membangun budaya sadar bencana di tanah air.