Bripka Taufan Dirikan Pesantren Gratis di Lembang, Diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026
Bripka Taufan Dirikan Pesantren Gratis, Diusulkan Hoegeng Awards

Bripka Taufan Dirikan Pesantren Gratis di Lembang, Diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026

Bhabinkamtibmas Desa Mekarwangi, Polsek Lembang, Polres Cimahi, Bripka Muhammad Taufan Rizky, telah mendirikan pondok pesantren gratis di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Inisiatif ini bertujuan memberikan pendidikan yang layak bagi anak yatim dan kaum duafa, yang kemudian membuatnya diusulkan warga sebagai kandidat Hoegeng Awards 2026.

Dari Keprihatinan Menjadi Aksi Nyata

Bripka Taufan, yang menjadi Bhabin di Desa Mekarwangi sejak 2018, mulai mendirikan Pondok Pesantren Daarul Huda Al-Azis pada tahun 2020. Langkah ini berawal dari keprihatinannya melihat anak yatim dan duafa yang terdampak pandemi COVID-19, kesulitan biaya sekolah meskipun pendidikan formal gratis.

"Ada anak yatim piatu yang kekurangan biaya sekolah, meskipun sekolahnya gratis dari SMP, cuma dia biaya hidupnya kurang akhirnya kita dengan Pak Ajat membuat pondok pesantren gratis," ujar Bripka Taufan.

Perkembangan Pesantren yang Signifikan

Pesantren ini menyediakan tempat tinggal, makan, dan kebutuhan sehari-hari bagi santri. Awalnya hanya menampung 2 orang, kini telah berkembang menjadi 50 santri dari berbagai daerah seperti Tangerang dan Lampung. Para santri menempuh pendidikan di sekolah formal sekitar, lalu mengikuti program pesantren seperti mengaji, belajar kitab kuning, dan tadarusan sepulang sekolah.

Sekretaris Desa Mekarwangi, Rustandi, mengungkapkan dukungan warga terhadap inisiatif ini. "Alhamdulillah sangat mendukung dalam adanya kegiatan pondok pesantren tersebut, pada dasarnya meningkatkan pendidikan keagamaan khususnya, ataupun kesenjangan sosial untuk masyarakat khususnya di bidang pendidikan," katanya.

Proses Pembangunan dengan Gotong Royong

Pendirian pesantren ini dilakukan dengan biaya dari Bripka Taufan, warga sekitar, dan donatur, termasuk sumbangan dari warga negara asing di bidang sosial. Total biaya yang telah dikeluarkan mencapai sekitar Rp 100 juta. Pada awal pembangunan, anak-anak bahkan sempat belajar di tenda saat kondisi hujan dan angin kencang.

Rustandi menambahkan: "Saya berterima kasih ada Bhabin yang peduli dalam kegiatan hal tersebut, yang peduli dengan keterbatasan anggaran pemerintah desa, beliau dengan para pengusaha, pengembang, anggaran awal pembangunan."

Keterlibatan Bripka Taufan di Luar Tugas

Selain mengajar di pesantren, Bripka Taufan juga aktif sebagai penceramah di masjid-masjid setempat, terutama setiap Jumat dan selama Ramadan. Ia mengelola pesantren secara mandiri bersama dua orang lainnya, dengan bantuan beras dan sayuran dari warga sekitar.

Bripka Taufan, yang merupakan lulusan pesantren dan masuk polisi melalui jalur khusus pesantren pada 2009, menyatakan cita-citanya sejak lama adalah memiliki pesantren. "Saya dulu lulusan pesantren, masuk polisi juga khusus pesantren, jalur khusus, waktu itu 2009, jadi tes ngaji sama pidato. Makanya saya punya cita-cita seperti ini alhamdulillah bisa ngasih yang terbaik untuk masyarakat," jelasnya.

Dampak dan Pengakuan

Pesantren ini telah mendapatkan Surat Keputusan (SK) dan bekerja sama dengan pemerintah setempat untuk biaya makan dan kebutuhan lainnya. Warga Lembang mengusulkan Bripka Taufan sebagai kandidat Hoegeng Awards 2026 atas kepeduliannya terhadap pendidikan anak-anak kurang mampu.

Rustandi menyebut Bripka Taufan memiliki jiwa sosial yang tinggi. "Karena dia Bhabin di wilayah saya, terus melihat warga yatim piatu, beliau jadi Bhabin jiwa sosial tinggi, alhamdulillah beliau awalnya melihat dari hal-hal seperti itu, dari anak yatim. Sekarang berkembang, (santri) dari beberapa luar wilayah juga alhamdulillah," tuturnya.

Dengan dedikasi ini, Bripka Taufan tidak hanya menjalankan tugas sebagai polisi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan dan keagamaan.