Perpustakaan MPR RI bekerja sama dengan Terramori menyelenggarakan kegiatan Literasi Kreatif dengan tema 'Terrarium: Pohon Sukun, Pengasingan, dan Benih Pancasila' di Ruang Perpustakaan MPR RI, Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Jakarta. Acara ini bertujuan meningkatkan semangat literasi dan kreativitas, sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan.
Mendukung Pengembangan Diri dan Kreativitas
Kegiatan ini sejalan dengan Peraturan Perpustakaan Nasional RI Nomor 4 Tahun 2023 yang menyatakan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai ruang pengembangan diri, kreativitas, komunitas, dan pemberdayaan masyarakat. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal (Plt Sekjen) MPR RI Siti Fauziah memberikan apresiasi kepada Perpustakaan MPR RI atas terselenggaranya acara ini.
Menurut Siti Fauziah, literasi kreatif bukan sekadar aktivitas kreatif, melainkan juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. Ia mengaku senang melihat antusiasme peserta dari berbagai kalangan dan generasi, termasuk keterlibatan peserta laki-laki yang memberikan warna tersendiri.
"Saya senang karena kegiatan seperti ini biasanya didominasi peserta perempuan, tetapi hari ini alhamdulillah ada peserta laki-laki juga dan generasinya cukup berimbang. Artinya kegiatan ini bisa diterima oleh semua kalangan," ujar Siti dalam keterangannya, Kamis (14/5/2026).
Apa Itu Terrarium?
Terrarium adalah seni menata tanaman kecil, lumut, dan elemen lainnya seperti batu atau pasir di dalam wadah kaca transparan, yang mensimulasikan ekosistem alami dalam bentuk miniatur. Kerajinan ini sering disebut sebagai 'hutan dalam botol' atau ekosistem mandiri untuk hiasan ruangan.
Makna di Balik Tema Pohon Sukun
Tema pohon sukun dipilih karena memiliki makna historis dan ideologis. Pohon tersebut menjadi bagian dari kisah perenungan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Pohon sukun bukan sekadar tanaman pangan. Ia adalah jejak hidup yang mencatat ketabahan, kesederhanaan, dan daya cipta," jelas Siti. "Di bawah pohon sukun itulah Pancasila mulai menemukan bentuknya," sambungnya.
Melalui kegiatan ini, peserta diajak tidak hanya menghasilkan karya seni berupa terrarium, tetapi juga memahami nilai-nilai penting seperti kesabaran, ketelitian, disiplin, hingga kemampuan berimajinasi.
Filosofi dalam Proses Pembuatan Terrarium
Menurut Siti, seluruh proses dalam menyusun lapisan batu, tanah, hingga tanaman memiliki filosofi yang relevan dengan dunia kerja. "Dalam membuat terrarium ini ada aturan, ada tahapan, ada kesabaran, dan ada ketelitian. Semua unsur itu sebenarnya dibutuhkan dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari," ungkap Siti.
Siti menceritakan saat proses pembuatan terrarium, tahap menyusun batu kerikil menjadi gambaran tantangan dalam organisasi maupun pekerjaan. "Saya ingin membuat susunan batu seperti tangga, tetapi batunya tidak selalu nurut. Dari situ kita belajar bahwa dalam pekerjaan juga ada tantangan," tutur Siti. "Kita tidak bisa memaksakan kehendak, tetapi harus mencari cara agar semuanya bisa tersusun dengan baik," sambungnya.
Healing di Tengah Rutinitas
Selain menjadi ruang pengembangan kreativitas, kegiatan ini juga dinilai mampu menjadi sarana healing di tengah rutinitas pekerjaan. "Kegiatan seperti ini bisa menjadi penyegar di tengah kepenatan bekerja. Dengan meluangkan waktu sejenak, kita bisa membangun semangat baru untuk kembali menjalankan tugas," kata Siti.
Salah satu peserta, Vidya Palupi, menyampaikan antusiasmenya. Ia mengaku awalnya mengira membuat terrarium merupakan hal mudah karena sering melihat hasil cantik di media sosial. Namun, saat praktik langsung, proses pembuatannya ternyata cukup menantang.
"Awalnya saya pikir terrarium itu tinggal pasang-pasang aja. Ternyata waktu praktik tidak semudah kelihatannya," ujar Vidya. "Kreativitas kita benar-benar diuji karena hasilnya tidak selalu langsung secantik yang ada di media sosial," sambungnya.
Vidya berharap kegiatan literasi kreatif dapat lebih sering diselenggarakan karena memberikan suasana berbeda di tengah rutinitas pekerjaan. "Ini jadi ajang healing sekaligus bisa berkumpul dan berinteraksi dengan teman-teman dari unit lain dalam suasana yang lebih santai dan menyenangkan, bukan dalam forum rapat. Kegiatan ini juga sesuai dengan namanya, menambah kreativitas kami," ungkap Vidya.
Kehadiran Pejabat dan Founder Terramori
Acara ini juga turut dihadiri oleh Deputi Bidang Administrasi sekaligus Plt Kepala Biro (Kabiro) Humas dan SI MPR RI Heri Herawan; Pustakawan Ahli Madya Yusniar; pejabat eselon III, IV, pejabat fungsional, serta pegawai di lingkungan Setjen MPR RI. Dihadirkan pula Founder Terramori, Valentino Putra Budiman, yang membimbing pelatihan kerajinan ini.



