NATO akan memamerkan serangkaian proyek militer baru bernilai miliaran dolar dalam upaya meyakinkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Trump sebelumnya mendesak sekutu Eropa untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan dan berinvestasi memperkuat persenjataan.
Pertemuan puncak selama dua hari yang dimulai pada Selasa (07/07) tersebut berlangsung di kompleks istana kepresidenan Presiden Recep Tayyip Erdogan di Ankara, Turki. Konferensi ini diadakan setahun setelah para anggota NATO berjanji untuk meningkatkan belanja militer menjadi 5% dari PDB di bawah tekanan AS. Sebelum KTT, Trump juga dikabarkan murka atas sikap Eropa yang tidak membantu AS dalam serangan terhadap Iran.
Misi Meredam Kemarahan Trump
Dalam acara yang dijuluki sebagai "the big reveal" pada forum industri hari Selasa (07/07) sebelum agenda KTT utama dimulai, beberapa pemimpin Eropa dijadwalkan mengumumkan proyek belanja persenjataan besar-besaran, terutama dari perusahaan AS. Seorang diplomat senior Eropa yang tidak ingin diungkap identitasnya menggambarkan bahwa "KTT ini adalah waktunya untuk sebuah pertunjukan." Langkah ini krusial mengingat Trump sebelumnya mencap NATO sebagai "paper tiger" yang tidak bisa berfungsi tanpa persenjataan dan kepemimpinan AS. Trump sendiri dilaporkan berangkat dari Washington pada Senin (06/07) malam waktu setempat untuk menghadiri KTT, didampingi oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
"Kami akan mengumumkan puluhan miliar kontrak baru yang akan menyediakan perlengkapan krusial yang dibutuhkan untuk menangani pencegahan dan pertahanan," kata Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte kepada para wartawan pada malam menjelang KTT aliansi militer tersebut, dikutip dari Reuters. Rutte menegaskan bahwa negara-negara Eropa telah "memenuhi" janji mereka dengan memperkuat anggaran militer dan bergerak untuk mengambil tanggung jawab lebih besar atas pertahanan benua mereka dalam menghadapi Rusia. "Hanya satu tahun kemudian, kita sudah melihat kemajuan transformasional," tambahnya.
Gebrakan industri pertahanan ini muncul beberapa minggu setelah Rutte mencoba meredakan kekhawatiran AS mengenai pengeluaran militer di NATO. Saat itu, Rutte mengajukan penawaran baru menggunakan grafik bertuliskan "The Trump Trillion", yang menunjukkan pengeluaran sebesar 1,2 triliun dolar oleh sekutu Eropa dan Kanada sejak 2017.
Namun, alih-alih terkesan, Trump justru tampak tidak tergerak. Pemimpin AS itu menyatakan masih kecewa atas penolakan beberapa sekutu NATO untuk bergabung dalam perang Iran, yang dia luncurkan bersama Israel tanpa berkonsultasi dengan mereka. Melalui platform Truth Social pekan lalu, Trump menulis "konyol bagi AS untuk terus menyusuri jalan sepihak ini ketika hubungan ini tidak saling menguntungkan. Mereka tidak ada untuk kita!!!" Dalam kesempatan lain, Trump juga menegaskan posisinya. "Kami tidak butuh uang mereka, kami tidak butuh apa pun. Saya hanya ingin loyalitas," ujar Trump.
Upaya Diplomasi dan Potensi Gesekan
Para pemimpin Eropa setidaknya bertujuan untuk menghindari perselisihan dengan pemimpin AS yang kerap berubah pikiran itu, yang dapat memberikan pukulan lebih lanjut terhadap kredibilitas NATO setelah Trump berulang kali meragukan komitmen AS untuk melindungi sekutunya. Para diplomat kini mengandalkan hubungan baik Trump dengan Erdogan, serta pesona diplomasi dari bos NATO Mark Rutte untuk menjaga suasana hatinya tetap terkendali. Meski demikian, potensi gesekan tetap ada mengingat Trump baru-baru ini juga berselisih dengan sejumlah pemimpin lain, termasuk Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni.
Demi menunjukkan iktikad baik terkait isu Iran, sekutu Eropa yang dipelopori oleh Prancis dan Inggris telah menyiapkan potensi misi angkatan laut untuk membantu di Selat Hormuz, dan beberapa negara telah menggeser kapal-kapal mereka lebih dekat ke wilayah tersebut agar siap siaga. Namun, situasinya tetap tidak menentu karena pihak Eropa menginginkan kejelasan tentang bagaimana kesepakatan rapuh AS dengan Iran berlangsung sebelum mengirimkan angkatan laut mereka. Di sisi lain, Washington telah memperjelas bahwa mereka ingin sekutunya memimpin pertahanan konvensional di benua tersebut, dan baru-baru ini mengumumkan pemotongan aset yang disediakan untuk komandan NATO.
Peremajaan Armada Intai dan Kapal Selam Baru
Di antara kontrak yang akan diungkap, yang banyak di antaranya dirancang dan beberapa telah ditandatangani jauh sebelum KTT, diperkirakan mencakup penggantian armada pesawat pengintai NATO yang sudah menua. NATO sebagai organisasi tidak memiliki persenjataan apa pun karena semua itu adalah milik 32 negara anggota, tetapi organisasi ini memiliki armada pesawat AWACS yang berusia sekitar 50 tahun dan beberapa drone pengintai yang lebih baru.
Mendukung dorongan peningkatan ini, Kanada mengumumkan pada hari Senin (06/07) bahwa mereka telah memilih Thyssenkrupp Marine Systems asal Jerman untuk membangun armada kapal selam barunya. Program bernilai miliaran dolar ini digambarkan oleh Ottawa sebagai bagian dari upaya memperdalam hubungan pertahanan dengan sekutu NATO di Eropa.
Beberapa proyek lainnya secara khusus akan dibayar dengan dana dari sistem pinjaman murah untuk tujuan pertahanan yang dibentuk oleh Uni Eropa, yang terdiri dari dana hingga 170 miliar dolar yang dihimpun di pasar modal. "Kita perlu memastikan bahwa kita menerjemahkan kekuatan ekonomi kita menjadi kapabilitas militer, memanfaatkan uang tunai dari rencana pertahanan hingga drone, dari uang hingga rudal dan pencegat," ujar Rutte. Dia menambahkan, "semua ini adalah bukti perubahan nyata dalam pola pikir. Ini adalah NATO 3.0. Eropa yang lebih kuat dalam NATO yang lebih kuat."
Netanyahu Tolak Jual Jet F-35 ke Turki
Di sela-sela persiapan KTT, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menentang rencana penjualan jet tempur ke Turki. Dalam sebuah acara pagi "Fox & Friends" pada Senin (06/07), Netanyahu mendesak AS untuk tidak menjual jet tempur F-35 ke Turki, dengan alasan bahwa Erdogan "menyerukan secara terbuka pemusnahan Israel." Hubungan Turki dan Israel sendiri sangat sengit. Erdogan sering menuduh Israel melakukan genosida dalam perangnya di Gaza. Hal tersebut dipicu oleh serangan mematikan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan.
Turki sendiri telah dilarang dari program F-35 pada tahun 2019 setelah membeli sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia. Namun, Trump yang memiliki hubungan hangat dengan Erdogan, telah mengisyaratkan sebelum kunjungannya ke Ankara bahwa penjualan tersebut bisa segera dilanjutkan. Trump bahkan mengindikasikan akan datang membawa hadiah untuk pemimpin Turki tersebut. Netanyahu menegaskan bahwa menjual F-35 kepada Turki akan "mengganggu keseimbangan kekuatan di Timur Tengah, yang pada akhirnya dijamin oleh keunggulan udara Israel dan juga, saya kira, oleh kehadiran Amerika di Timur Tengah." Angkatan Udara Israel sendiri sangat bergantung pada ratusan jet tempur AS, termasuk F-35, F-16, dan F-15.
Menuju Visi 'NATO 3.0' dan Beban Keamanan Eropa
KTT ini mengusung fokus utama soal Eropa yang lebih kuat untuk NATO yang lebih kuat. Pemerintahan Trump telah memperingatkan para sekutu bahwa mereka harus menangani keamanan Eropa sendirian karena AS akan berfokus pada Cina dan kawasan Indo-Pasifik. Pentagon menginginkan awal baru melalui visi "NATO 3.0", sebuah visi aliansi di mana Eropa memikul tanggung jawab yang lebih besar atas pertahanannya sendiri, sehingga membebaskan AS untuk berkonsentrasi pada prioritas lain.
Namun, menaikkan pengeluaran pertahanan berarti menaikkan pajak atau mengalihkan sumber daya dari prioritas lain. Menteri Pertahanan Inggris John Healey secara mengejutkan mengundurkan diri bulan lalu, menyatakan bahwa pemerintah tidak bersedia mengeluarkan dana di saat ancaman meningkat. Kekhawatiran juga meningkat di antara beberapa negara Eropa utara dan tengah-timur bahwa Rusia mungkin sedang mempersiapkan serangan hibrida, yaitu kombinasi perang konvensional dengan taktik seperti serangan siber, di benua tersebut saat Presiden Rusia Vladimir Putin berjuang untuk mengamankan kemenangan di Ukraina.
Sementara itu, kantor perdana menteri Inggris menyatakan juga akan "berfokus pada pembangunan NATO yang lebih kuat dan lebih bernuansa Eropa." Mantan PM Keir Starmer, yang mengumumkan pengunduran dirinya pada 22 Juni 2026, selama ini menjadi jaminan partisipasi Inggris dalam pertahanan Eropa. Pemerintahannya telah berkomitmen untuk mencapai target anggaran NATO dengan membelanjakan 3,5% dari produk domestik bruto untuk pertahanan pada tahun 2035, tetapi tidak memiliki rencana konkret untuk mencapainya. Rencana pengeluaran saat ini hanya akan membuat pengeluaran tersebut mencapai 2,7% dari PDB pada tahun 2029.
Eropa Ambil Alih Bantuan Ukraina
Selain mengambil tanggung jawab lebih besar atas pertahanan mereka, negara-negara Eropa kini juga telah mengambil alih dukungan untuk Ukraina hampir sepenuhnya seiring langkah Trump yang memangkas bantuan AS. Presiden Volodymyr Zelensky, yang akan menghadiri makan malam para pemimpin pada hari Selasa (07/07), akan mendapatkan komitmen dari para pendukung Eropa mereka di NATO untuk menjaga aliran bantuan militer setidaknya 70 miliar euro (sekitar 80 miliar dolar AS) ke Kyiv setiap tahun, baik pada tahun 2026 maupun 2027.
Zelensky, yang dijadwalkan mengadakan pembicaraan langsung dengan Trump di KTT Ankara, mendesak aliansi untuk mengambil "keputusan tegas" dalam meningkatkan pertahanan udara Ukraina setelah serangan kilat Rusia yang menghancurkan dan menewaskan hampir 30 orang. Pemimpin Ukraina tersebut akan berupaya meyakinkan Trump, yang sempat melakukan panggilan telepon dengan Vladimir Putin sebelum pertemuan ini, bahwa Kyiv berhasil membalikkan keadaan dalam perang dan bahwa Trump harus menekan Moskow kembali ke negosiasi perdamaian yang serius.



