Wamendikti Stella Christie Peringatkan Bahaya Ketergantungan AI Bagi Kemampuan Kognitif Mahasiswa
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti saintek), Prof. Stella Christie, memberikan peringatan keras kepada para mahasiswa mengenai tren penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di dunia akademik yang semakin masif. Meskipun AI menawarkan berbagai kemudahan dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah, riset dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengungkapkan bahwa ketergantungan berlebihan pada teknologi ini justru dapat mengikis kemampuan kognitif seseorang secara signifikan.
Riset MIT Ungkap Dampak Negatif AI pada Kemampuan Kognitif
Dalam konteks akademik, penggunaan AI yang tidak bijaksana dapat mengurangi daya pikir kritis dan kreativitas mahasiswa. Riset MIT menunjukkan bahwa ketika individu terlalu mengandalkan AI untuk menyelesaikan masalah atau tugas, otak mereka menjadi kurang terlatih dalam proses berpikir mendalam dan analitis. Hal ini berpotensi menghambat pengembangan keterampilan kognitif esensial yang diperlukan untuk sukses di dunia profesional dan kehidupan sehari-hari.
Stella Christie, yang juga merupakan guru besar di bidang ilmu kognitif, menekankan hal ini melalui sebuah unggahan video di akun Instagram @gik.ugm pada Kamis (12/2/2026). Ia menyoroti bahwa esensi dari mengerjakan tugas kuliah bukan sekadar menyelesaikannya dengan cepat atau mudah, melainkan sebagai proses pengembangan diri yang berharga.
Filosofi Belajar: Fokus pada Pengembangan Diri
"Tipsnya cuma satu. Segala sesuatu yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri supaya kita tambah hebat, tambah bisa, dan tambah pintar," ujar Stella Christie dalam video tersebut. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya memandang pendidikan sebagai jalan untuk memperkuat kemampuan individu, bukan hanya sebagai kewajiban akademik semata.
Dengan demikian, meskipun AI dapat menjadi alat bantu yang efektif, mahasiswa didorong untuk tidak terjebak dalam ketergantungan yang dapat merugikan perkembangan kognitif mereka. Proses belajar yang melibatkan usaha, tantangan, dan pemecahan masalah secara mandiri tetap menjadi kunci utama dalam membangun kompetensi dan kepercayaan diri.
Peringatan dari Wamendikti ini datang di tengah maraknya penggunaan AI di kalangan akademisi, yang menuntut keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dan mempertahankan integritas serta kualitas pendidikan. Dengan kesadaran ini, diharapkan mahasiswa dapat lebih bijak dalam mengintegrasikan AI ke dalam kegiatan belajar mereka, tanpa mengorbankan kemampuan kognitif yang vital untuk masa depan.