Wamendikti: Anak Multibahasa Lebih Pintar, Bukan Terlambat Bicara
Anak Multibahasa Lebih Pintar, Bukan Terlambat Bicara

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Prof Stella Christie menegaskan bahwa kekhawatiran orang tua terhadap anak yang belajar multibahasa mengalami keterlambatan bicara atau speech delay tidak berdasar. Dalam pernyataannya Jumat (24/7/2026) melalui akun Instagram resminya @prof.stellachristie, ia menyebut anggapan tersebut hanyalah mitos belaka.

Fakta Sains: Multibahasa Tingkatkan Kecerdasan Kognitif

Menurut Prof Stella, penelitian sains justru membuktikan bahwa anak yang fasih dalam lebih dari satu bahasa memiliki keunggulan kognitif. "Anak yang bisa multibahasa justru lebih pintar secara kognitif," ujarnya. Ia menekankan bahwa kemampuan mengelola dua atau lebih sistem bahasa secara simultan melatih otak anak untuk lebih fleksibel dan tajam dalam berpikir.

Manfaat Jangka Panjang: Risiko Alzheimer Menurun

Lebih lanjut, Prof Stella mengungkapkan bahwa manfaat multibahasa tidak hanya dirasakan saat anak-anak, tetapi juga hingga usia lanjut. "Penelitian sains justru melihat anak yang bisa multibahasa ketika berusia lanjut probabilitas untuk Alzheimer jauh berkurang," jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan bilingual atau multilingual sejak dini dapat menjadi investasi kesehatan otak jangka panjang.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Mitos vs Fakta: Orang Tua Tak Perlu Khawatir

Banyak orang tua kerap cemas jika anak mereka mulai belajar dua bahasa sekaligus, khawatir akan kebingungan atau terlambat bicara. Namun, Prof Stella mengklarifikasi bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung kekhawatiran tersebut. Sebaliknya, paparan bahasa ganda justru memperkaya kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah anak.

Pernyataan ini diharapkan dapat mengedukasi masyarakat, terutama para orang tua, untuk tidak ragu mengenalkan lebih dari satu bahasa kepada anak sejak dini. Dengan dukungan lingkungan yang tepat, anak multibahasa dapat tumbuh dengan kemampuan kognitif yang unggul dan risiko penyakit neurodegeneratif yang lebih rendah.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga