Gus Yasin Dorong Industri di Jateng Perkuat Komitmen sebagai Lingkungan Ramah Anak
Gus Yasin Dorong Industri Jateng Jadi Lingkungan Ramah Anak

Gus Yasin Dorong Industri di Jateng Perkuat Komitmen sebagai Lingkungan Ramah Anak

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen, yang akrab disapa Gus Yasin, secara tegas meminta seluruh sektor industri di wilayah Provinsi Jawa Tengah untuk memperkuat komitmen mereka dalam menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang ramah anak. Seruan penting ini disampaikannya secara langsung saat menghadiri acara puncak peringatan World Children's Day (WCD) 2025 tingkat provinsi, yang berlangsung di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Kabupaten Batang, Minggu (23/11/2025).

Selaraskan dengan Rekomendasi Kids Take Over Jawa Tengah

Dorongan dari Wakil Gubernur ini bukan tanpa dasar, melainkan selaras dan mendukung rekomendasi yang dihasilkan dari inisiatif Kids Take Over (KTO) Jawa Tengah. Rekomendasi tersebut menekankan beberapa poin krusial, termasuk:

  • Perlunya sistem perlindungan anak yang lebih kuat dan komprehensif di kawasan-kawasan industri.
  • Pentingnya menciptakan budaya kerja yang adil, mendukung keluarga, dan memperhatikan kesejahteraan pekerja beserta anak-anak mereka.
  • Peningkatan akses terhadap pembelajaran berkualitas serta pengembangan keterampilan yang relevan bagi anak-anak, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan industri.

Gus Yasin dengan tegas menyatakan dukungan penuhnya terhadap rekomendasi tersebut. Ia menegaskan bahwa peran Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan industri sangat vital, tidak hanya untuk kontribusi sosial umum, tetapi khususnya untuk mendanai dan menyelenggarakan program edukasi serta pelatihan berkelanjutan bagi anak-anak di sekitar lokasi industri.

"Kesempatan yang baik ini mempertegas komitmen industri dalam mewujudkan pemenuhan dan perlindungan anak melalui industri ramah anak," ujar Gus Yasin dalam keterangan tertulisnya.

Sinergi Pendidikan-Industri dan Penguatan Kelembagaan

Lebih jauh, Gus Yasin menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) secara aktif mendorong penguatan sinergi strategis antara dunia pendidikan dan industri. Langkah konkretnya termasuk mendukung pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berbasis industri, dengan harapan lulusannya dapat lebih sesuai dan siap menghadapi kebutuhan dinamika dunia kerja yang terus berkembang.

Di sisi kelembagaan, pihaknya juga gencar memperkuat keberadaan dan fungsi forum anak hingga ke tingkat kecamatan. Penguatan ini diintegrasikan melalui program unggulan Kecamatan Berdaya. Program ini didukung oleh kehadiran Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak (RPPA) di tingkat kecamatan, yang berfungsi sebagai:

  1. Layanan pengaduan bagi korban kekerasan.
  2. Pusat pemulihan bagi kasus-kasus kekerasan yang terjadi.
  3. Sarana edukasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
  4. Penghubung atau fasilitator layanan lintas sektor untuk penanganan yang lebih terpadu.

Menurut Gus Yasin, pemenuhan hak anak tidak akan cukup jika hanya mengandalkan regulasi dan kebijakan dari atas semata. Oleh karena itu, posisi kecamatan sengaja diperkuat dan diposisikan sebagai simpul strategis yang dapat merespon dan menyelesaikan berbagai permasalahan anak dengan lebih cepat, efektif, dan dekat dengan masyarakat.

Festival Anak Kecamatan Berdaya: Wadah Kolaborasi dan Aspirasi

Festival Anak Kecamatan Berdaya sendiri digelar selama tiga hari, dari tanggal 21 hingga 23 November 2025. Acara ini merupakan bentuk kolaborasi yang solid antara Dinas Perempuan dan Anak Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Batang, UNICEF Indonesia, Forum Anak Jawa Tengah, serta forum anak dari berbagai tingkatan lainnya.

Yang menarik, festival tahun ini tidak hanya diikuti oleh anak-anak dari Jawa Tengah, tetapi juga menjembatani pertukaran pengalaman dengan perwakilan anak dari Provinsi Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Bali. Gus Yasin mengaku sangat terkesan dengan berbagai gagasan cerdas dan aspiratif yang disampaikan oleh anak-anak dalam berbagai sesi dialog selama festival berlangsung.

Kepala Dinas Perempuan dan Anak Provinsi Jawa Tengah, Emma Rachmawatie, menambahkan bahwa tema global WCD 2025, 'My Day, My Rights', menjadi penegasan komitmen Jawa Tengah untuk menghadirkan pemenuhan hak dan perlindungan anak yang semakin nyata, konkret, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka, khususnya di tingkat kecamatan.

Gelaran festival ini pun dirancang khusus untuk tidak hanya menampilkan seni, kreativitas, dan permainan tradisional, tetapi yang lebih penting, menempatkan anak sebagai subjek aktif – sebagai penggerak acara dan pemberi rekomendasi langsung kepada pemerintah daerah. Hal ini mencerminkan pergeseran paradigma dari sekadar objek program menjadi mitra pembangunan yang suaranya didengar dan dipertimbangkan.