KOMPAS.com - Judi online tidak lagi hanya menjadi persoalan orang dewasa. Di tengah mudahnya akses internet dan penggunaan ponsel sejak usia dini, anak-anak dan remaja kini juga mulai terpapar praktik judi online (judol).
Pernyataan Dokter Spesialis Kejiwaan
Dokter spesialis kejiwaan konsultan RSJD dr. Arif Zainudin Surakarta, Dr. dr. Adriesti Herdaetha, Sp.KJ(K), M.H., atau yang akrab disapa dr. Etha, mengatakan anak-anak memang lebih sering mengalami kecanduan game dibanding judi online secara langsung. Namun, akses internet yang terbuka membuat anak tetap berisiko masuk ke lingkungan judi online, terutama melalui pergaulan, game, hingga iklan atau tautan yang mudah ditemukan di internet.
Faktor Risiko pada Anak dan Remaja
Menurut dr. Etha, anak-anak pada dasarnya lebih rentan terhadap adiksi game karena belum memiliki pemikiran tentang menghasilkan uang. Namun, pada remaja akhir, risiko terpapar judi online meningkat seiring munculnya rasa penasaran dan motivasi ekonomi. "Kalau anak-anak itu sebenarnya lebih banyak adiksi game. Karena anak belum berpikir tentang menghasilkan uang. Tapi remaja akhir mulai bisa masuk ke judi online karena mulai ada rasa penasaran dan motivasi ekonomi," jelas dr. Etha saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (12/5/2026).
Fenomena ini menjadi perhatian serius karena anak-anak dan remaja yang terpapar judi online dapat mengalami dampak negatif pada kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, dan gangguan perilaku. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan ketat dari orang tua serta edukasi tentang bahaya judi online sejak dini.



