Seorang pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang berinisial R (17) mengaku belajar merakit bom secara otodidak selama empat bulan. Bom rakitan tersebut kemudian diledakkan di lingkungan sekolah pada Selasa (14/7/2026). Motif di balik aksi ini adalah akumulasi tekanan psikologis akibat perundungan (bullying) yang dialaminya sejak duduk di kelas II.
Belajar dari YouTube dan Instagram
Kabid Humas Polda Sumatera Barat, Kombes Susmelawati Rosya, mengungkapkan bahwa R mempelajari teknik merakit bom secara mandiri dari platform digital. "Berdasarkan pengakuan dari yang bersangkutan, dia belajar secara mandiri atau autodidak dari YouTube, Instagram, dan internet. Dia belajar mandiri secara autodidak dan itu sudah disampaikannya," ujar Susmelawati saat dihubungi wartawan pada Kamis (16/7/2026).
Hingga saat ini, polisi belum menemukan bukti adanya pihak lain yang membimbing R. "Sampai saat ini, belum ada informasi terkait adanya pihak atau orang lain yang membimbingnya. Dari hasil pemeriksaan terhadap pelaku, memang dia itu mengaku belajar autodidak secara mandiri sendiri," ungkapnya.
Kronologi Perundungan dan Perakitan Bom
R mulai belajar merakit bom sejak sekitar bulan April 2026, bertepatan dengan bulan Ramadan. Ia kerap menjadi korban bullying sejak naik ke kelas II. "(Belajar merakit) dari bulan Ramadan kemarin, berarti dari April, sampai sekarang. Karena si anak dari duduk kelas II dia sudah di-bully. Sekarang dia sudah kelas III. Sejak pertama duduk di kelas II, dia sudah di-bully sama teman-teman kelasnya," tutur Susmelawati.
"Jadi, tindakan ini kemungkinan merupakan akumulasi dari beban tekanan psikologis yang mendalam sehingga dia dari bulan Ramadan sudah belajar secara autodidak, kemudian melihat internet, melihat Instagram itu ia lakukan, itu ia akui sendiri," tambahnya.
Tidak Terafiliasi Jaringan Terorisme
Polisi memastikan bahwa R tidak memiliki kaitan dengan jaringan terorisme mana pun. "Update dari informasi menunjukkan bahwa kejadian ini tidak ada hubungannya dengan jaringan-jaringan terorisme seperti yang kita bayangkan," ucap Susmelawati.
Ledakan bom rakitan terjadi pada Selasa (14/7) di MAN 3, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tengah, Kota Padang. Jubir Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Mayndra Eka, menjelaskan bahwa barang yang diduga bom rakitan ditemukan oleh petugas keamanan sekolah. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Polisi menyebutkan R kerap menjadi korban bullying oleh teman-temannya. "Iya betul korban bullying, karena tekanan psikologis sering jadi objek ejekan teman-temannya ya, dia berbuat seperti itu," ujar Susmelawati.
Fokus Pemulihan Psikologis
Saat ini, R menjalani rehabilitasi psikologis. Pihak kepolisian berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) setempat untuk pemulihan R. "Jadi, kita juga butuh merehab (pemulihan) supaya merehabilitasi psikologis si anak ini agar tidak terpapar lebih jauh. Saat ini, Kapolres sudah berkoordinasi dan berkolaborasi dengan OPD setempat untuk pemulihan dan rehabilitasi korban. Ini yang sedang menjadi prioritas utama," tutur Susmelawati.
Proses pemeriksaan terhadap R masih berjalan, namun polisi mengutamakan pemulihan. "Saat ini masalah pemeriksaan sedang berjalan. Masalah penetapan (status) atau apa itu belum ada, karena fokus saat ini adalah pemulihan bagi korban. Pemulihan atau pendampingan psikologis bagi korban menjadi hal yang paling utama," jelasnya.
Selain itu, trauma healing juga diberikan kepada siswa-siswi MAN 3 Padang. "Yang kedua juga ada pemulihan untuk anak-anak sekolah. Jadi dari Polsek kemarin sudah dilakukan trauma healing oleh Kapolseknya ke sekolah. Seperti yang disampaikan kemarin oleh pimpinan, anak ini kan masih muda, usianya 17 tahun, dan dia ini terpapar," tambah Susmelawati.



