Tragedi Demak: Pelajar SD 12 Tahun Diduga Bunuh Diri di Rumah
Pelajar SD 12 Tahun Diduga Bunuh Diri di Demak

Tragedi Demak: Pelajar SD 12 Tahun Diduga Bunuh Diri di Rumah

Indonesia kembali berduka menyusul kasus dugaan bunuh diri anak yang terjadi di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Insiden ini terjadi setelah peristiwa serupa yang mengguncang Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Korban Ditemukan dalam Kondisi Tergantung

Seorang pelajar sekolah dasar (SD) berusia 12 tahun ditemukan tewas dalam kondisi tergantung di rumahnya pada Kamis (12/2/2026). Laporan dari Kompas.id pada Jumat (13/2/2026) mengonfirmasi bahwa korban diduga kuat mengakhiri hidupnya sendiri.

Penyelidikan awal yang dilakukan oleh pihak berwajib tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Hal ini menyebabkan penyelidikan tidak dilanjutkan lebih lanjut, mengindikasikan bahwa kasus ini kemungkinan besar adalah tindakan bunuh diri.

Duka Beruntun di Indonesia

Kasus di Demak ini menjadi tamparan kedua bagi Indonesia dalam waktu singkat. Sebelumnya, masyarakat juga dikejutkan oleh peristiwa serupa di Kabupaten Ngada, NTT. Kedua kejadian ini menyoroti masalah kesehatan mental dan tekanan yang dihadapi anak-anak di berbagai daerah.

Pihak berwenang belum mengungkapkan motif atau penyebab pasti dari tindakan tragis ini. Namun, tidak adanya tanda kekerasan memperkuat dugaan bahwa korban mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Insiden ini terjadi di lingkungan rumah korban, menambah kesedihan bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Pelajar SD tersebut seharusnya masih menikmati masa kanak-kanak dan menempuh pendidikan dasar.

Dampak pada Masyarakat

Kematian pelajar SD ini menimbulkan duka mendalam di Kabupaten Demak dan sekitarnya. Masyarakat lokal diharapkan memberikan dukungan kepada keluarga korban yang sedang berduka.

Kasus ini juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental anak-anak. Orang tua, guru, dan masyarakat perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku atau tanda-tanda distress pada anak.

Meskipun penyelidikan formal tidak dilanjutkan, tragedi ini tetap meninggalkan luka yang dalam bagi semua pihak yang terlibat. Indonesia sekali lagi dihadapkan pada realita pahit mengenai kerentanan anak-anak terhadap tekanan hidup.