Warga Babakan Madang Bogor Masih Trauma, Was-was Setiap Hujan Deras Turun
Warga Babakan Madang Bogor Trauma, Was-was Saat Hujan Deras

Warga Babakan Madang Bogor Hidup dalam Kecemasan Pasca Banjir

Meski air banjir di Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, telah surut beberapa hari lalu, bayang-bayang kejadian itu masih menghantui kehidupan warga. Rasa was-was dan ketakutan akan terulangnya bencana serupa tak kunjung sirna dari benak masyarakat setempat.

Trauma Mendalam Akibat Kerusakan Parah

Rudi (53), salah satu warga Desa Cijayanti, mengungkapkan bagaimana kecemasan langsung menyergapnya setiap kali hujan deras mengguyur kawasan tersebut. "Was-was jadi tidak tenang kalau hujan deras, barang elektronik rusak, kulkas, televisi, dispenser. Untung kalau motor bisa diselamatkan," tuturnya dengan nada khawatir.

Dia menceritakan detik-detik mengerikan ketika banjir melanda dua hari sebelumnya. Sekitar pukul 17.00 WIB, air dengan cepat naik hingga mencapai ketinggian 1,2 meter di dalam rumahnya. "Saya langsung masuk ke dalam, semua pada rusak, pada jebol ubin, mesin pompa air mati," kenang Rudi sambil menggambarkan kerusakan yang dialami.

Saat kejadian, Rudi sedang berada di rumah bersama anak-anaknya. Dengan sigap, dia langsung berusaha menyelamatkan barang-barang yang masih mungkin diangkat. Meski banjir relatif cepat surut setelah waktu Magrib, dampaknya tetap terasa. Dia terpaksa tidur di lantai ubin tanpa alas karena tempat tidurnya basah total.

Kehidupan yang Terus Diwarnai Kekhawatiran

Perasaan serupa juga dialami Suryati, warga lain yang telah menetap di Babakan Madang selama tujuh tahun. "Asal hujan satu jam saja kita mulai ketar-ketir, sudah keluar masuk melihat posisi air sudah masuk atau belum," ujarnya menggambarkan kecemasan yang terus menghantuinya.

Khawatirnya sedemikian besar hingga setiap kali hujan deras turun, segala aktivitas yang sedang dikerjakan langsung ditinggalkan. Suryati akan sibuk mencari informasi tentang kondisi air di sekitar rumahnya, bahkan hanya dalam setengah jam setelah hujan besar. "Sudah capek hati, capek pikiran, capek tenaga, capek segala-galanya," keluhnya dengan lesu.

Kerugian material yang dialami Suryati cukup parah. Saat tiba di rumah setelah banjir, dia menemukan keramik yang mengelupas, tembok yang jebol, dan pintu kamar yang rusak. Meski air telah surut, sisa-sisa lumpur masih menempel di sekitar rumah dan kerusakan bangunan belum diperbaiki.

Upaya Pencegahan dan Harapan Warga

Bupati Bogor Rudy Susmanto telah mengungkapkan penyebab banjir di wilayah tersebut. "Cijayanti sendiri itu setiap hujan deras air meluap lalu masuk ke jalan. Maka beberapa alat berat milik Dinas PUPR, sudah kita geser ke waduk atau situ," jelas Rudy kepada wartawan.

Pemerintah Kabupaten Bogor berkomitmen melakukan penanganan awal untuk mencegah terulangnya bencana serupa. Meski kewenangan normalisasi sungai berada di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Pemkab Bogor akan mengambil alih langkah-langkah yang bisa dilakukan segera. "Karena menyangkut keselamatan orang banyak, maka kami Pemkab Bogor mengambil alih apa yang bisa kami lakukan terlebih dahulu," tegas Rudy.

Normalisasi sungai dan situ menjadi prioritas dalam upaya mitigasi banjir ke depan. Sementara itu, warga seperti Suryati berharap adanya relokasi ke tempat yang lebih aman dari ancaman banjir, mengingat trauma dan kerugian yang telah mereka alami.

Kehidupan warga Babakan Madang kini diwarnai oleh kewaspadaan ekstra terhadap perubahan cuaca. Setiap tetes hujan yang jatuh membawa kembali kenangan pahit tentang rumah yang terendam, harta benda yang rusak, dan ketakutan akan keselamatan keluarga.