Rismon Sianipar Berbalik Arah: Akui Ijazah Jokowi dan Gibran Asli
Rismon Akui Ijazah Jokowi dan Gibran Asli

Rismon Sianipar Berbalik Arah: Kini Akui Ijazah Jokowi dan Gibran Asli

Dalam perkembangan terbaru yang mengejutkan, Rismon Hasiholan Sianipar, tersangka dalam kasus tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), telah berbalik arah. Kini, ia menyatakan bahwa ijazah Jokowi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka adalah asli, setelah sebelumnya meragukan keabsahannya melalui buku-buku yang ditulisnya.

Permohonan Restorative Justice dan Pertemuan dengan Jokowi

Pekan lalu, Rismon disebut telah mengajukan permohonan Restorative Justice (RJ) terkait kasus ini. Ia juga telah menemui Jokowi di Solo, Jawa Tengah, untuk menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Kombes Iman Imannudin, Dirkrimum Polda Metro Jaya, mengonfirmasi bahwa Rismon bersama pengacaranya telah menyampaikan permohonan fasilitasi RJ kepada penyidik.

"Jadi beberapa hari yang lalu atau seminggu yang lalu, yang bersangkutan saudara RHS bersama pengacaranya menyampaikan permohonan fasilitasi restorative justice kepada penyidik," kata Iman kepada wartawan pada Rabu (11/3/2026). Rismon kemudian datang ke Polda Metro Jaya pada hari yang sama untuk menanyakan perkembangan permohonan tersebut, yang saat ini masih dalam proses oleh penyidik.

Status Hukum dan Wajib Lapor

Meskipun telah mengajukan RJ, Rismon masih berstatus sebagai tersangka dalam kasus ini. Ia tetap dikenakan kewajiban untuk melapor ke Polda Metro Jaya, terutama dalam situasi tertentu seperti saat libur Lebaran. Kombes Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, menegaskan bahwa wajib lapor adalah bentuk kontrol terhadap orang yang berstatus hukum tersangka.

"Bisa berkoordinasi dengan penyidik dengan alasan tertentu (wajib lapor saat lebaran). Wajib lapor itu adalah bagaimana mengontrol orang yang dalam status hukum tersangka," ujar Budi pada Jumat (13/3). Kasus ini awalnya melibatkan delapan tersangka, termasuk Roy Suryo, tetapi setelah Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis mengajukan RJ dan kasusnya dihentikan, tersisa enam tersangka yang terbagi dalam dua klaster.

Pertemuan Tertutup dan Permintaan Maaf

Usai mengajukan RJ, Rismon menemui Jokowi di Solo pada Kamis (12/3) bersama pengacaranya, Jahmada Girsang. Dalam pertemuan tertutup tersebut, Rismon tampak memakai kemeja hitam dan celana jeans. Ia mengaku datang untuk meminta maaf kepada Jokowi atas tudingan yang telah dilontarkan.

"Ya tentu, saya pun minta maaf kepada publik. Apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Joko Widodo. Itulah pertanggungjawaban seorang peneliti yang harus independen, yang siap dicerca, dihina dengan narasi-narasi sesuka mereka meskipun narasi mereka tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah," kata Rismon usai pertemuan.

Jokowi Memaafkan dan Menyerahkan ke Hukum

Jokowi mengaku telah menerima permohonan maaf dari Rismon dan memaafkannya. Namun, ia menyerahkan urusan hukum kasus ini, termasuk proses RJ, kepada penasihat hukumnya dan kepolisian. "Ya, kemarin telah datang Pak Rismon Sianipar ke sini, ke kediaman saya dan saya menerima permohonan maaf Pak Rismon Sianipar," kata Jokowi pada Jumat (13/3).

"Mengenai nanti untuk urusan restorative justice-nya, saya serahkan kepada penasihat hukum saya, karena itu merupakan kewenangan dari Polda Metro, kewenangan dari penyidik yang ada di Polda Metro Jaya," tambahnya. Sikap ini menunjukkan komitmen Jokowi untuk menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

Pengakuan Keaslian Ijazah dan Rencana Buku Baru

Kini, Rismon sebagai peneliti dan ahli forensik digital menyatakan bahwa ijazah Jokowi dan Gibran adalah asli, berlawanan dengan klaim dalam bukunya sebelumnya, 'Jokowi's White Paper' dan 'Gibran End Game'. Ia mengaku telah melakukan kajian lebih lanjut selama tiga bulan terakhir dan menemukan bukti keaslian, seperti watermarks dan fitur emboss pada dokumen.

"Iya, asli. Karena apa? Dengan kajian saya, makanya saya bilang, 'truth hurts'. Kebenaran itu menyakitkan. Tetapi lebih menyakitkan lagi yang saya rasakan kalau saya tidak mengungkapkannya dan lebih jujur," kata Rismon setelah menemui Wapres Gibran di Istana Wakil Presiden, Jakarta, di mana ia juga menyampaikan permohonan maaf.

Rismon menjelaskan bahwa penemuannya didasarkan pada analisis variabel geometri pencahayaan dan intensitas cahaya, yang mengungkap jejak stempel yang tidak terlihat sebelumnya. Ia berencana menulis buku antitesis untuk mengoreksi penelitiannya yang tidak lengkap, yang diharapkan dapat dipublikasi dalam enam bulan ke depan. "Saya akan tuliskan koreksi saya terhadap penelitian saya yang tidak lengkap: Jokowi's White Paper dan Gibran End Game. Dan saya minta izin saya tuntaskan di kampung saya di Balige," ujarnya.