Kematian Cameron Hughes, 39 tahun, asal Perth di pusat penahanan imigrasi Bali pada pekan lalu meninggalkan jejak utang dan pekerjaan restorasi mobil yang belum selesai. Ia ditemukan tidak sadarkan diri di toilet tahanan, dan penyebab pasti kematiannya masih diselidiki. Kematiannya memicu kekhawatiran puluhan pelanggan dari Australia dan negara lain yang menggunakan jasa bengkel restorasi mobil miliknya di Bali.
Puluhan Pelanggan Mengaku Dirugikan
ABC Australia telah mengumpulkan dokumen dan pesan terkait Cameron serta berbicara dengan lebih dari dua puluh orang yang menggunakan jasanya. Terungkap bahwa selama lebih dari sepuluh tahun, para pelanggan merasa dirugikan. Kehidupan pribadi Cameron memburuk dalam setahun terakhir karena masalah bengkelnya. Dua hari sebelum meninggal, ia menulis pesan permintaan maaf: "Saya juga perlu meminta maaf… kepada semua orang atas perilaku bodoh saya akhir-akhir ini. Banyak hal disebabkan oleh stres, kebingungan, dan banyak mengonsumsi minuman keras."
Cameron telah tinggal di Bali selama lebih dari 15 tahun dan menjalankan setidaknya dua bisnis restorasi mobil, Karma Kombis dan Holden Resto Bali. Beberapa pelanggan mengaku membayar mulai dari beberapa ribu dolar Australia hingga AU$100.000 untuk merestorasi mobil klasik. Halaman rumahnya dipenuhi mobil yang sedang direstorasi, beberapa sudah lebih dari lima tahun namun hampir tidak tersentuh. Mobil lain yang sudah dikirim ke pemiliknya ternyata tidak layak jalan.
Salah satu pelanggan yang berteman dengan Cameron sejak 2016 mengaku dijanjikan Kombi dalam enam bulan dengan harga AU$10.000. Setelah empat tahun tertunda dan tambahan AU$30.000, ia meminta mobil dikirim apa adanya. "Kondisinya persis sama seperti saat saya membelinya, kecuali cat baru. Saya membawanya ke ahli Volkswagen di Australia, dan mereka mengatakan mobilnya tidak layak jalan," katanya.
Grup Facebook dan Kerugian Besar
Sebuah grup Facebook privat bernama Holden Resto Bali Horror Stories dipenuhi keluhan pelanggan. Grup tersebut berkembang dari sekitar 200 anggota menjadi lebih dari 500 anggota sejak kematian Cameron, sementara grup publik serupa memiliki sekitar 1.000 pengikut. Kematian Cameron membuat banyak pelanggan bertanya-tanya apakah mereka akan menerima mobil atau uang mereka kembali.
Mark Pulford menghabiskan hampir AU$80.000 sejak Desember 2023 untuk membeli dan merestorasi Holden Torana. Setelah pengecatan awal pada April 2025, delapan bulan kemudian baru dipasang kaca. "Satu-satunya yang dikerjakan pada mobil itu adalah waktu saya mengunjungi bengkelnya, perubahannya sangat kecil. Kemudian tidak ada lagi yang diselesaikan sampai saya berkunjung lagi," kata Mark. Video pada Mei 2026 menunjukkan mobil tersebut masih belum selesai, tertutup debu bersama puluhan mobil lain.
Beberapa pelanggan mengatakan mereka tidak tahu di mana mobil mereka berada, sementara yang lain menyerah mendapatkan uang kembali. Seorang pelanggan mengaku suku cadang mobilnya malah terlihat di mobil orang lain. ABC mengonfirmasi laporan terkait bengkel Cameron sudah disampaikan ke kepolisian Bali pada akhir 2025. Beberapa orang juga mencoba mediasi hukum, dan sumber mengatakan Cameron setuju menyelesaikan masalah tapi tidak pernah menindaklanjuti.
Tekanan Pribadi dan Pernyataan Sebelum Kematian
Keluarga Cameron menyerahkan draft pernyataan yang ditulis pada 4 Juli 2026, sebelum kematiannya, namun tidak pernah dipublikasikan. Dalam pernyataan itu, Cameron membela bisnisnya: "Saya menghadapi tekanan pribadi dan bisnis yang sangat besar. Kesehatan saya makin memburuk. Saya dirawat di rumah sakit akhir tahun lalu dan lagi awal tahun ini karena tukak lambung dan anemia, yang membutuhkan transfusi darah." Ia juga membantah rumor penipuan dan tuduhan pekerjaan berkualitas buruk, serta mengklaim ada mantan pekerja yang sengaja memperlambat atau menghentikan pekerjaan.
Komunikasi Cameron dengan pelanggan semakin tidak menentu. Dalam pesan suara pada Mei 2025, ia berkata kasar kepada pelanggan untuk "tenang dan biarkan saya menyelesaikan pekerjaan". Beberapa pelanggan menggambarkan ledakan emosi serupa. Pada April 2026, Cameron mengirim video dari pusat penahanan imigrasi Bali saat menunggu kemungkinan deportasi. "[Saya] sangat stres, dan saya minta maaf," katanya. Dalam pesan audio lain, ia menjelaskan tidak bisa mengerjakan mobil karena baru bercerai dari istri Indonesianya akibat masalah visa, namun berencana tetap bekerja.
Masa Depan Bisnis yang Tidak Jelas
ABC memahami Cameron sudah beberapa kali mendatangi kantor imigrasi Bali dalam setahun terakhir, termasuk saat penahanan pada hari Jumat, dan menghadapi deportasi. Dalam pernyataan yang belum dipublikasikan, ia menawarkan pelanggan untuk mengambil kendaraan sebelum selesai atau menunggu hingga ia bisa melanjutkan pekerjaan secara legal. Namun setelah kematiannya, masa depan bisnis, uang, dan kendaraan pelanggan masih belum jelas.
Beberapa orang yang mengenal Cameron menggambarkannya awalnya sebagai pria ramah dan berusaha sebaik mungkin. "Dia adalah pria yang sangat baik, mudah diajak bicara, dan sangat bersahabat. Tetapi ketika semuanya menjadi buruk… dia bukan orang yang sama lagi yang saya ajak bicara," kata seseorang yang tidak mau disebutkan namanya. Dalam unggahan Facebook setelah kematiannya, mantan istri Cameron, Indah, berharap orang-orang dapat memaafkannya: "Dengan rendah hati saya memohon maaf atas segala kesalahan, luka, atau perbuatan buruk yang mungkin sudah ia lakukan selama hidupnya."



