Kematian Sutrimo yang ditemukan tak sadarkan diri di depan Klinik Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (23/7) masih menjadi perhatian publik. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengonfirmasi bahwa korban sempat dilarikan ke RS Muhammadiyah Taman Puring menggunakan ambulans, namun nyawanya tidak tertolong. Sutrimo disebut-sebut sebagai kepala rumah tangga (karumga) mantan Jampidsus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah, sehingga kasus ini ramai diperbincangkan di media sosial.
Polisi masih mengumpulkan kepingan-kepingan informasi untuk mengungkap kejadian sebenarnya di balik kematian Sutrimo. Berbagai pihak, mulai dari koalisi masyarakat sipil hingga DPR RI, mendesak pengusutan tuntas. Penyidik gabungan Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Selatan, bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri bekerja sama mengungkap penyebab kematian. Berdasarkan catatan detikcom, Minggu (2/8), berikut lima upaya yang dilakukan polisi.
1. Olah TKP di Klinik Mordent
Pada Senin (27/7), polisi menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP) di Klinik Mordent. Kegiatan dimulai pukul 13.10 WIB dan rampung pada 14.13 WIB. Tampak seorang personel membawa tiga bungkusan kertas berwarna cokelat. Polisi kemudian memasang kembali garis polisi di pagar dan pintu masuk klinik. Pantauan di lokasi, sejumlah penyidik terlihat keluar masuk klinik untuk mengumpulkan barang bukti.
Kasubnit Resmob Polres Jaksel Ipda Robby Pasha menyebut barang bukti yang diamankan akan dibawa ke Puslabfor, meski belum merinci jenisnya. "(Dibawa) Ke ini, Labfor, seperti yang kita ketahui tadi ya," kata Robby di lokasi.
Seorang tukang parkir bernama Deni (45) mengaku melihat Sutrimo tergeletak telentang. "Ada, telentang, saya lihat telentang," ujarnya. Deni tidak melihat kondisi Sutrimo dari dekat, tetapi menyaksikan korban kemudian dibawa menggunakan ambulans. "Kalau warga sini pastinya tahu. Ya saya tahu sih cuma satu ambulans aja. Mobilnya mobil APV," katanya.
2. Keluarga Dipersilakan Melapor
Kombes Budi menuturkan setiap informasi yang beredar, termasuk di media sosial, menjadi bahan pendalaman penyidik. Pihaknya juga mempersilakan keluarga korban melapor jika merasa ada kejanggalan atas kematian Sutrimo. "Makanya nanti kita melihat karena selama ini beberapa waktu dari hari kemarin kita mendapatkan postingan-postingan foto, dokumen, ini kan harus ada pendalaman," ucapnya di kawasan Matraman, Jakarta, Senin (27/7).
"Kita juga memberi ruang kepada keluarga korban yang masih dalam kondisi berduka. Dan kita juga memberikan imbauan apabila memang keluarga korban merasa ada kejanggalan terhadap meninggalnya saudara S, ini bisa membuat laporan kepada Polda Metro Jaya," tuturnya.
Namun, perwakilan keluarga Sutrimo, Ardi, menyampaikan bahwa keluarga telah ikhlas dan tidak berniat melapor. "Mohon maaf ibu (almarhum Sutrimo) sedang sakit, sekarang kondisinya lagi tenang. Mohon maaf kami tidak bisa menerima (wartawan), keluarga sudah mengikhlaskan," terang Ardi saat ditemui di rumahnya di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Selasa (28/7).
3. Dokter RS Muhammadiyah Dipanggil
Polisi juga mendalami kabar bahwa Sutrimo meninggal dengan kondisi mulut berbusa. Untuk itu, penyidik telah mengirim undangan klarifikasi kepada dokter yang memeriksa korban. "Bahwa penyidik sedang mengirim, sudah mengirim undangan klarifikasi kepada dokter yang memeriksa. Makanya nanti akan didalami dulu proses tersebut," kata Kombes Budi, Jumat (31/7).
Budi menambahkan, sejumlah foto dan video yang viral terkait kematian Sutrimo harus diverifikasi kebenarannya. "Kita mungkin teman-teman juga sudah melihat ada foto yang beredar, tetapi kan harus kita klarifikasi apakah benar itu kondisi awal, benar nggak itu merupakan sosok almarhum S atau bukan. Termasuk video-video yang beredar ambulans, keranda jenazah yang dibawa ada CCTV, ini kan harus ditemukan persesuaian oleh teman-teman penyidik," terangnya.
4. Ponsel Sutrimo Diperiksa
Penyidik turut memeriksa ponsel milik Sutrimo beserta riwayat interaksi di dalamnya. Hingga saat ini, lima orang saksi telah dimintai keterangan, yaitu AZ dan MOP selaku pengemudi ambulans, MZ pemilik perusahaan ambulans, MA yang sempat berkomunikasi dengan Sutrimo, serta AAS pengemudi ambulans yang membawa Sutrimo dari klinik ke rumah sakit.
"Ya tentunya (akan memeriksa ponsel). Informasi sekecil apa pun itu pasti akan dilakukan. Tetapi kalau kita berbicara tentang proses penyelidikan substansi materi, itu belum dapat kami sampaikan kepada publik. Karena itu merupakan kerahasiaan dari teman-teman penyelidikan dalam proses ini," kata Budi Hermanto.
Selain itu, penyelidik mengundang dokter berinisial IK dan pemilik perusahaan ambulans berinisial S untuk klarifikasi. MA disebut sebagai pihak yang mengenal almarhum dan melihat korban terakhir kali pada Rabu (22/7) sekitar pukul 20.00 WIB di depan Klinik Mordent.
5. CCTV Klinik dan Rumah Sakit Dikumpulkan
Polisi juga mengumpulkan rekaman CCTV dari Klinik Mordent dan RS Muhammadiyah Taman Puring untuk pemeriksaan digital forensik. Rekaman tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran kronologi kejadian sebelum dan sesudah Sutrimo ditemukan. "Proses penyelidikan masih berlangsung. Penyelidik akan melanjutkan klarifikasi terhadap dokter dan saksi lainnya, melakukan pemeriksaan digital forensik terhadap rekaman CCTV, serta menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik," ujar Budi.
Desakan Pengusutan Tuntas
Kasus kematian Sutrimo mendapat sorotan luas. Koalisi masyarakat sipil dan DPR RI mendesak agar pengusutan dilakukan transparan. Komnas HAM juga menyatakan dukungannya terhadap polisi dan akan memantau proses penyelidikan. Sebelumnya, jenazah Sutrimo telah dimakamkan malam hari setibanya di Banyumas, Jawa Tengah. Penyidik gabungan terus bekerja untuk mengungkap fakta di balik kematian Sutrimo dan memastikan tidak ada informasi yang ditutup-tutupi.



