Wamenag: Jangan Terburu-Buru Menyimpulkan Kasus Ledakan MAN 3 Padang
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo R Muhammad Syafi'i angkat suara mengenai ledakan bom rakitan di MAN 3 Balai Gadang, Koto Tengah, Padang, Sumatera Barat yang dilakukan oleh seorang siswa berinisial R (17) pada Selasa (14/7). Syafi'i menegaskan bahwa dirinya tidak ingin terburu-buru memberikan kesimpulan terhadap kasus tersebut sebelum ada hasil penyelidikan resmi. Menurutnya, dalam insiden serupa di SMAN 72, ledakan justru lebih dipengaruhi oleh faktor psikologi pelaku.
Faktor Psikologi Diduga Menjadi Pemicu
"Ada persoalan-persoalan psikologi yang dialami oleh pelaku sehingga kemudian dia nekat melakukan tindakan seperti itu," kata Syafi'i di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (15/7). Ia menduga faktor serupa juga memicu ledakan di MAN 3. Syafi'i menekankan bahwa masalah tersebut harus menjadi kekhawatiran semua pihak. Kini, sejumlah kementerian di bawah Kemenko PMK telah menyepakati untuk membentuk lingkungan pendidikan yang nyaman bagi anak, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di ruang publik dan digital.
Pembentukan Satgas untuk Mencegah Terulangnya Kejadian
"Makanya harus ada upaya bersama untuk menciptakan ruang yang aman dan nyaman. Ini kita sudah sepakat di Menko PMK membuat Satgas yang menangani ini," katanya. Dalam kasus ini, Syafi'i mengatakan bahwa Satgas akan bertugas mencegah peristiwa serupa terulang. Di waktu yang sama, Satgas juga akan melakukan pendampingan terhadap korban-korban perundungan. "Dan kalau itu sudah menyangkut peristiwa hukum, kita juga sudah bekerja sama dengan aparat penegak hukum agar pelaku-pelaku yang melakukan bullying itu sesuai dengan mens rea yang bisa dibuktikan," ujarnya.
LPSK Akan Mendampingi Pelaku dan Korban
Menurut Syafi'i, Satgas juga akan bekerja sama dengan LPSK untuk mendampingi korban-korban yang tidak berani bersuara. LPSK juga akan turun untuk mendampingi pelaku ledakan. "Nanti kepada pelaku akan dilindungi oleh LPSK sehingga bisa mengungkapkan semua peristiwa yang dialaminya agar peristiwa itu yang minimal terakhir untuk dia, tidak terjadi pada orang-orang yang lain," katanya.
Kronologi dan Motif Pelaku
Polisi telah mengamankan pelajar berinisial R dalam kasus ledakan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3, Balai Gadang, Koto Tengah, Padang, Sumatera Barat pada 14 Juli. Remaja 17 tahun itu diduga merupakan pemilik bom rakitan yang meledak. Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Susmelawati Rosya menjelaskan bahwa terduga pelaku nekat melakukan aksinya lantaran kerap menjadi korban bully atau perundungan di sekolah. "Sehingga dia membalas dengan jalan pintas membuat bom dengan ledakan rendah atau low eksplosif," ungkapnya.
Inspirasi dari Aksi Serupa
Juru Bicara Densus 88, Kombes Mayndra Eka Wardhana, menyatakan bahwa pelaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring dan terinspirasi oleh aksi serupa di SMAN 72 Jakarta. "Pelaku juga mengaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring dan terinspirasi oleh peristiwa bom di SMA Negeri 72 Jakarta pada tahun 2025. Motif tersebut masih dalam proses pendalaman oleh TIM Penyelidik," tuturnya.



