Kepolisian Italia menggerebek kantor sejumlah merek mewah, termasuk Chanel dan Bulgari, pada Jumat, 17 Juli 2026. Penggerebekan ini dilakukan di tengah dugaan penggunaan subkontraktor yang mempekerjakan tenaga kerja asal China oleh merek-merek tersebut.
Merek Lain yang Digerebek
Jaksa Milan, Paolo Storari, mengonfirmasi bahwa merek mewah lainnya yang diduga terlibat dan digerebek polisi Italia mencakup Brunello Cucinelli, Etro, Goyard Italie, Jacob Cohen Company, Moncler, dan Stefano Ricci. Pernyataan Storari ini mengonfirmasi informasi yang sebelumnya dipublikasikan oleh harian bisnis Italia, Il Sole 24 Ore.
Penyelidikan Kondisi Kerja Eksploitatif
Penyelidikan menyeluruh oleh kantor kejaksaan Milan telah mengungkap berbagai kasus kondisi kerja eksploitatif dalam rantai pasokan sejumlah merek mode terkemuka, termasuk Prada, Givenchy, dan Dolce & Gabbana. Permasalahan utamanya adalah praktik subkontrak berantai di mana merek-merek mengontrakkan pekerjaan kepada pemasok, yang kemudian mengontrakkannya lagi ke pihak lain, di tengah margin keuntungan yang menipis dan minimnya pengawasan terhadap kondisi kerja.
Praktik ini berujung pada keterlibatan perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja asal China dalam kondisi eksploitatif. Beberapa merek, termasuk Loro Piana, ditempatkan di bawah pengawasan administratif sementara akibat kekhawatiran mengenai kondisi kerja di tingkat pemasok. Pembatasan tersebut dicabut setelah perusahaan-perusahaan terkait sepakat untuk mengelola rantai pasokan mereka secara lebih ketat.
Reaksi Pemerintah Italia
Pemerintah Italia telah membela merek-merek barang mewah tersebut. Menteri Perindustrian Italia, Adolfo Urso, mengatakan tahun lalu bahwa reputasi merek-merek Italia sedang "diserang".



