Warga Palestina di Israel Dilarang Bicara Bahasa Arab di Tempat Kerja
Larangan Bahasa Arab di Tempat Kerja bagi Warga Palestina Israel

Warga Palestina di Israel melaporkan bahwa atasan mereka semakin sering mengatur bahasa yang digunakan di tempat kerja. Mulai dari apotek hingga toko pakaian, banyak yang mengeluhkan larangan berbicara bahasa Arab. Para pengacara yang mendampingi mereka mengatakan praktik diskriminasi ini menjadi semakin terang-terangan, seperti dilansir Middle East Eye, Selasa (28/7/2026).

Pengalaman Langsung Seorang Karyawan Palestina

Salma (bukan nama sebenarnya), warga negara Israel keturunan Palestina berusia 19 tahun, terkejut saat manajer toko tempatnya bekerja mengirim pesan WhatsApp yang melarang keras penggunaan bahasa Arab. Bersama rekan-rekannya, ia menganggap larangan itu tidak masuk akal dan mengabaikannya. Namun situasi memuncak ketika seorang rekan kerja berbicara dalam bahasa Arab saat membawa kotak ke ruang penyimpanan. Manajer langsung marah dan berteriak, menendang kotak-kotak, serta mengatakan, “Ini adalah negara Yahudi. Di sini kita hanya berbicara bahasa Ibrani. Bahasa Arab itu untuk di rumah saja.”

Intimidasi dan Ancaman Kehilangan Pekerjaan

Salma menyebut bahwa semua staf di tempat kerjanya adalah keturunan Palestina, hanya manajer yang Yahudi Israel. Ketika beberapa staf memprotes larangan itu, mereka dibiarkan tanpa shift kerja selama dua bulan, lalu ditawari pindah ke cabang lain yang lokasinya sulit dijangkau. Kejadian serupa dilaporkan di berbagai tempat, termasuk rumah sakit, apotek, dan toko ritel. Salah satu kasus terbaru melibatkan apotek Good Pharm di Jaffa, di mana manajer mengancam karyawan yang berbicara selain Ibrani dengan dalih pelanggan trauma akibat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Konteks Historis dan Statistik Penting

Warga keturunan Palestina di Israel adalah penduduk asli yang tetap tinggal setelah pengusiran sekitar 750.000 warga Palestina dalam Nakba 1948. Saat ini komunitas ini berjumlah sekitar dua juta jiwa atau 20 persen dari populasi Israel. Sejak serangan Oktober 2023, mereka menghadapi peningkatan penangkapan, tindakan disipliner, dan kehilangan pekerjaan terkait ekspresi politik tentang genosida di Gaza. Larangan bahasa Arab ini menjadi bentuk diskriminasi yang makin nyata di tengah ketegangan yang meningkat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga