KOMPAS.com – Pemandangan langit cerah di berbagai kota besar Amerika Utara kini makin sering tergantikan oleh kabut tebal. Di Toronto, Kanada, warga yang berada di dek observasi CN Tower menyaksikan cakrawala kota yang buram akibat kabut asap. Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya di Washington, Amerika Serikat (AS), pasukan National Guard berpatroli di kawasan National Mall yang redup tertutup asap, di mana para komuter terpaksa mengenakan masker.
Dampak Kebakaran Hutan yang Meluas
Asap kebakaran hutan yang bertiup dari Kanada ke wilayah AS kini menjadi "tamu rutin" tahunan. Fenomena ini tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat. Di Kanada, kebakaran hutan telah menghanguskan jutaan hektar lahan setiap tahunnya. Menurut data pemerintah Kanada, pada tahun 2023 saja, lebih dari 15 juta hektar hutan terbakar, melebihi rekor sebelumnya.
Upaya Penanganan dan Dampak Kesehatan
Pemerintah setempat telah mengeluarkan peringatan kualitas udara di sejumlah wilayah. Warga diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker jika harus keluar rumah. Di Washington, National Guard dikerahkan untuk membantu patroli dan distribusi masker kepada masyarakat. "Kami melihat peningkatan signifikan dalam kasus gangguan pernapasan akibat paparan asap," kata seorang perwakilan dari Dinas Kesehatan Washington.
Perbandingan dengan Indonesia
Di Indonesia sendiri, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering terjadi di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Pada tahun 2023, luas area yang terbakar mencapai lebih dari 1,2 juta hektar, menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Asap dari karhutla juga kerap menyebar ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, menimbulkan masalah diplomatik dan kesehatan regional.
Faktor Penyebab Kebakaran Hutan
Baik di Kanada maupun Indonesia, kebakaran hutan dipicu oleh kombinasi faktor cuaca ekstrem dan aktivitas manusia. Di Kanada, musim kemarau yang panjang dan suhu tinggi akibat perubahan iklim meningkatkan risiko kebakaran. Sementara di Indonesia, pembukaan lahan untuk perkebunan dan pertanian sering dilakukan dengan cara membakar, yang kemudian tidak terkendali.
Kesimpulan
Fenomena kabut asap lintas batas menjadi peringatan akan dampak perubahan iklim dan pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutan. Kerja sama internasional diperlukan untuk mengatasi akar masalah dan mengurangi dampak kesehatan serta lingkungan yang ditimbulkan.



